Akhirnya aku mencium aroma harum madura dan segala kemacetan yang jarang aku lihat di setiap perjalanan, aku pergi sejenak dari hingar-bingar kota yang penuh dengan kebencian dan dengki. Ada banyak sekali keraguan dalam perjalanan menuju rumah, hidup sendiri adalah sebuah kebingungan bagiku Nona, bagaimana tidak jikalau diriku masih belum mengetahui akan hakikat kehidupan yang tuhan berikan kepadaku. Langit yang mendung dan angin yang bercampur dengan hawa panas melempar segala kebingungan dengan sajak yang selalu aku katakan dalam setiap perjalanan, aku rindu ibu, tak juapun bapak yang beristirahat dalam tumpukan tanah dan beberapa bau kemenyan di atasnya. Nona, perjumpaan kita malam tadi sungguh membuatku untuk harus merindukanmu selalu, tapi ketika rindu itu hadir dan meninabobokan diriku, aku meronta ingin pergi untuk menuai kembali sajak yang lalu untuk aku sirami lagi, akan tetapi tetap saja tunas itu selalu mati walaupun selalu aku siram dengan dentuman-dentuman suara. ...
aku akan kembali seperti nelayan; mengarungi bahtera indah yang tercipta untuk mendapatkan beberapa ekor ikan, melemparkan jaring dan mengangkatnya, entah tak terbayang betapa indah seorang nelayan yang membawa ikan di tangan dengan senyum yang terlihat dari kejauhan, lalu bidadari melambaikan tangan dengan damai "mari kita pulang dan menyantap makanan kemudian beristirahat bersama"