Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

"Jejak Perjalanan (7)"

Akhirnya aku mencium aroma harum madura dan segala kemacetan yang jarang aku lihat di setiap perjalanan, aku pergi sejenak dari hingar-bingar kota yang penuh dengan kebencian dan dengki. Ada banyak sekali keraguan dalam perjalanan menuju rumah, hidup sendiri adalah sebuah kebingungan bagiku Nona, bagaimana tidak jikalau diriku masih belum mengetahui akan hakikat kehidupan yang tuhan berikan kepadaku. Langit yang mendung dan angin yang bercampur dengan hawa panas melempar segala kebingungan dengan sajak yang selalu aku katakan dalam setiap perjalanan, aku rindu ibu, tak juapun bapak yang beristirahat dalam tumpukan tanah dan beberapa bau kemenyan di atasnya. Nona, perjumpaan kita malam tadi sungguh membuatku untuk harus merindukanmu selalu, tapi ketika rindu itu hadir dan meninabobokan diriku, aku meronta ingin pergi untuk menuai kembali sajak yang lalu untuk aku sirami lagi, akan tetapi tetap saja tunas itu selalu mati walaupun selalu aku siram dengan dentuman-dentuman suara. ...

"Perjalanan Kopi (19)"

Aku tidak sempat memanifestasikan hujan tadi menjadi sebuah sajak tentang dirimu nona, aku terlalu menghayati perjumpaan kita melewati hujan, bahkan dirimu datang melewati hujan dan deru atap yang ramai. Sempat saja aku bertanya perihal keadaan dirimu, sudahkah dirimu menikmati hujan malam ini Nona? Mungkin saja disana makna hujan berubah seseorang yang bukan aku, atau bahkan hujan akan membawamu menyelami kitab kuno yang selalu kau pelajari. Beberapa waktu lalu dirimu mempertanyakan objek dalam setiap sajakku, apa dirimu berpura-pura tidak tahu Nona? Atau bahkan dirimu benar tidak tahu? Atau lebih buruk kau tidak tahu menahu objek sajakku Nona? Tersenyumlah Nona, akan aku jawab perihal objek dalam setiap sajakku ini, sajakku adalah manifestasi cinta dan rindu padamu Nona, seorang Nona yang mempunyai senyum yang meluluhlantakkan setiap kota layaknya atom. J-COFFE setelah hujan, 23 Desember 2019

"Perjalanan Kopi (18)"

Nona, apa dirimu masih dalam pelukan orang lain? Sungguh dalam setiap langkah kaki ini terjerit kepedihan yang teramat sangat bagai siksa akhirat yang tak berkesudahan. Selalu saja aku kobarkan kobaran api cinta padamu Nona, dan setelah itu aku tersipu lesu di depan kemungkinan-kemungkinan yang terbatas. Aku terjebak di dalam perkataan yang aku seropohkan pada alam semesta "Cinta adalah sebuah anugerah yang besar, tak akan ada sebuah cinta yang menyakitkan, cinta adalah surga, bunga dan sesuatu yang bermanifestasi keindahan", apa mungkin rasa ini bukan cinta Nona? Atau bahkan aku hanya berpura-pura mencintaimu Nona? Izinkan aku mencintai dan menyayangimu semenit lebih lama dari selamanya Nona, dan kemudian aku akan tersenyum indah melihat mu berjalan dengan seseorang yang bukan aku. J-COFFE, 22 Desember 2019

"Jejak Perjalanan (6)"

Selalu saja pertanyaan akan mengikuti setiap perjalananku Nona, perihal rasa yang selalu saja terikat dengan tanya, dengan keraguan yang mendalam. Sebenarnya aku masih belom tuntas dengan makna cinta Nona, mengapa tidak jikalau aku selalu berfikir banyak tentang kemungkinan-kemungkinan yang abstrak. Rasa adalah tokoh utama dalam perjalanan ku ini Nona, apa kau tahu Nona, aku selalu memanjakan rasa ini dengan perjumpaan kita. Selalu saja senyum dan canda tawamu adalah makanan bagi rasa ini, layaknya bayi yang selalu diberi asi, tumbuh dan menjadi dewasa. Di setiap senyap dingin dan lagu-lagu, dirimu selalu menjelma menjadi visualisasi setiap lagu dan kedinginan yang menggigilkan tubuhku Nona. Nona, rasa ini sungguh membuatku senang sekaligus resah Nona. Malang, 20 Desember 2019

"Jejak Perjalanan (5)"

Bagaimana seseorang akan berhenti mencintai seseorang yang dia amat cintai Nona? Apakah benar cinta bisa saja berhenti atau bahkan mati perlahan-lahan? Pengendara motor hilir mudik, kepulan asap berhamburan, bersatu dengan udara yang kita hirup Nona, tapi entah perasaan kita tidak pernah menyatu denganmu walaupun rasa ini selalu hilir mudik dalam kehidupan mu Nona. Dirimu adalah sebuah keindahan dalam kehidupan yang mengkarat. Dirimu adalah oksigen dalam keberlangsungan hidup Nona. Tapi sungguh sajak ini seberlebih sajak-sajak cinta Nona, tenang saja Nona, aku tidak akan mendakwamu sebagai tersangka kematian perasaan ku kelak. Klinik Daqu, 18 Desember 2019

"Jejak perjalanan (4)"

Suara jangkrik dan kicauan burung adalah nuansa subuh yang selalu aku rindukan - kita tidak lagi menikmati secangkir kopi bersama - namun mungkin saja subuh terakhir yang pernah kita lalui akan membekukan kita dalam kedinginan setiap subuh. Betapa indah keindahan alam semesta dan kemolekan senyum yang engkau suguhkan malam tadi, selalu saja ada alasan untuk berjumpa dan saling menyapa dengan penuh gugup Nona. Pada gegap gempita subuh, dan perih mata menahan kantuk, aku suguhkan munajat pagi kepada tuhan atas karunia kedatangan mu Nona, walaupun dirimu hanya sebatas fikir dan khayal setiap sajak akan tertulis. Taman Merjosari, 18 Desember 2019 

"Jejak Perjalanan (3)"

Apa mungkin aku menjadi perjalananmu terakhir Nona? Atau bahkan aku akan menjadi serpihan masa lalu yang tak akan kau fikirkan kembali? Aku selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan dari realitas tak terbatas dunia ini Nona. Aku melihatmu tumbuh Nona, membiarkanmu berjalan dengan jalanmu sendiri, dan kemudian diam-diam aku mengikutimu tanpa suara "Aku ingin mengenalmu Nona" atau bahkan aku harus mengenali diriku dahulu sebelum mengenalimu Nona? Pada setiap serpihan kerikil di jalanan, aku berjalan melewati bebatuan yang mungkin saja membuatku tertusuk, lalu akan aku katakan padamu Nona "Aku baik-baik saja Nona". Kepanjen, 15 Desember 2019

"Jejak Perjalanan (2)"

Pada embun, basah hujan dan segala wakilmu tuhan kutitipkan segala kelu kesah rindu betapa perihnya rindu yang aku emban pada kasih dan cinta. Aku titipkan Nonaku padamu tuhan, pada wakilmu, dan kepada alam semesta. Nona aku titipkan cinta dan kasih di bujuk batu ampar. Batu Ampar, 15 Desember 2019

"Jejak Perjalanan (1)"

Sudah sampai mana kita telah berjalan? Sudahkah kita beristirahat sejenak, meneguk air lalu menikmati alam semesta yang indah ini Nona? Perjalanan yang paling indah adalah perjalanan menuju sebuah hakikat, mengapa tidak jikalau hakikat adalah dzat yang selalu ada dalam kehidupan kita, sedangkan dirimu Nona selalu saja menghilang dalam kubungan sajak-sajak. Aku adalah pejalan waktu yang selalu lelah pada setiap perjalanan namun aku tak akan pernah berhenti untuk berjalan, karena tujuanku adalah diri-Nya yang tak berujung. Pada setiap pagi, selepas fajar merah dirimu selalu redup bersama mataku Nona, tapi mengapa setiap mataku terbangun dirimu selalu tersenyum dihadapanku Nona. Pada pemilik dzat yang maha agung aku titipkan segala takdirku, begitupun juga dirimu Nona. POM Bensin Suramadu, 15 Desember 2019

"Perjalanan Kopi (16)"

Kita menggigil dihadapan realitas yang ada - layaknya musim dingin, dan musim panas yang melanda - aku dalam ketidakmampuan merubah takdir, dan dirimu yang selalu bergerak dalam takdirmu sendiri. Kita memiliki kehendak masing-masing - layaknya kau mengambil porsi nasimu, dan aku mengambil porsi nasiku, aku tidak bisa memaksa kehendak porsi nasimu, jikalau aku memaksa mu untuk sepertiku, mungkin saja porsi yang aku haturkan akan membuatmu kekenyangan atau bahkan kelaparan Nona. Mari kita berjalan di jalan yang kita pilih dan merayakan apa yang telah terjadi nona, kita adalah hamba yang terjebak di dalam ketidak berhinggaan realitas. Mari kita saling memahami hidup diri kita sendiri sebelum memahami orang lain nona. Pada realitas terakhir, kita akan memahami bagaimana pola kehidupan kita sendiri. Kematian kita esok akan membuat kita menggigil, dan tuhan akan berkata "Kalian telah kembali ke asal-muasal, mari kita memeriahkan hidup yang sesungguhnya". Kunil, 15 Dese...

"Perjalanan Kopi (15)"

Kita adalah sebuah takdir yang kita ciptakan sendiri, bagaimana kita bersatu jikalau takdir yang ingin kau ciptakan bersebrangan dengan takdirku. Apa aku masih menginginkan takdir yang bersebrangan denganmu Nona? Mari kita selaraskan takdir yang ingin kita ciptakan, kita mencari jalan tengah, atau bahkan kau menyuruhku untuk merubah takdir yang telah ingin aku ciptakan? Cinta adalah takdir yang tuhan timpakan  kepada kita Nona, aku bisa saja merubah takdir yang ingin aku ciptakan, tapi kau tidak bisa menghakimi takdir tuhan dengan cinta yang tuhan berikan kepadaku untuk mencintaimu, aku tak mau menjadi hamba yang durhaka dan laknat. Takdir yang ingin kita ciptakan bisa saja terjadi atau tidak, tapi apa kau tahu Nona? Takdir tuhan tidak bisa terbantahkan, cinta adalah cinta yang datang ketika tuhan tersenyum, cinta tercipta dari ketidakmampuan untuk membenci, dan cinta tercipta dari senyum yang terus kau ciptakan dalam setiap perjumpaan kita Nona. Aku berharap jika takdir ...

"Perjalanan Kopi (14)"

Malam adalah tempat paling nyaman ketika aku mulai menuliskan segala sajak tentangmu Nona, bagaimana tidak malam selalu menghadirkanmu lebih sempurna daripada pagi - tidak ada gangguan apapun, bahkan aku ditemani bintang, bulan, kopi dan rokok untuk aku tuliskan manuskrip tentang perjalanan kopiku ini Nona. Esok 15 hari perjalanan kopiku tertuliskan tentangmu, tentang bagaimana aku tidak bisa bercerita apapun tentang hati kecuali dengan tulisan. Kata orang tulisan lebih jujur dan setia kepada pujangga, tapi menurutku tulisan tidak mendatangkan mu sempurna dalam tulisan, dirimu lebih sempurna daripada sajak tulisanku Nona. Mari kita beranjak kembali 4,5 tahun silam, keberadaan kita yang selalu berteman, dan kita berada di genggaman orang lain, dan pada akhirnya aku merasa tersakiti akan ikatan teman. Nona, sudah lama ketika dirimu mengatakan ingin memutuskan hubungan yang lalu, saranku itu adalah kata hati agar dirimu menjadi utuh milikku. Mungkin sampai saat ini dirimu tak p...

"perjalanan kopi (13)"

Kabut dan hembusan angin mulai berhamburan, cinta mulai bersemi dengan dekapan dirimu dipelataran malam ini. Paralayang menjadi kamera yang sangat mesra antara keberadaan dan kebersamaan kita berdua. Aku pergi meninggalkan kisah-kisah yang selalu mengalihkan cintaku padamu nona, aku tersenyum dan terhenyak bisa lebih dekat layaknya angin dan dingin. Cahaya dan hamburan manusia akan menunjukkan kita kembali pada kehidupan yang pernah aku harapkan. Aku mencintaimu nona, pada angin, dingin, embun, dan lampu-lampu kota, aku bersaksi bahwa dirimu nona akan selalu terkenang dalam sebuah cinta dan rasa. Paralayang, 10 Desember 2019

"Perjalanan Kopi (12)"

Aku adalah pujangga yang selalu salah mengartikan sebuah cinta, pangeran yang selalu berkelana dalam kebimbangan yang tak berujung dan tak berawal. Perjalanan apa yang tidak pernah memiliki akhir? Perjalanan apa yang tidak pernah ada kejelasan? Perjalanan cinta yang tak pernah terungkap Nona. Aku duduk bersebelahan dengan seseorang yang mungkin saja sangat aku cintai, menciumi semerbak harum dan hangat tubuhnya, selalu indah gesekan kulit dan sentuhan yang engkau berikan nona. Pada akhir pertemuan yang kita hamparkan aku hanya ingin menatapmu lebih jelas, memelukmu dalam harapan yang tak pernah padam, menciumimu dalam dekap doa, dan kau lalu kau boleh pergi bersama orang lain yang tidak pernah aku restui kedatangannya. Aku akan memilikimu dalam beberapa jam di warung kopi bersama sesapan rokok malam ini yang kumulai lagi, kataku kamu adalah setiap asap rokok yang aku hembuskan - menimbulkan candu yang amat dalam. Setelah kita tidak bersama, kau menjadi orang lain dan bukan m...

"Perjalanan Kopi (11)"

Malam itu pada saat sesapan kopi pertama seorang penjual puisi menghampiriku yang sedang bersetubuh dengan rindu. Ia kicaukan bulir-bulir sajak bernama angan dan kenang. Mereka berdua makhluk beda dimensi.  Angan bersamaku saat ku memilikimu, dan kenang bersamaku saat ku melepasmu kala itu. Sedang rindu yang ku setubuhi sedari tadi  membutakanku pada yang nyata. Beberapa saat lalu ada lelaki menghampiri, "permisi, apa boleh saya menjual puisi" silahkan kataku, lantas kenangan mulai membuncah di atas kepala, berkeling di atas ubun-ubun, "layang-layangku jatuh sebelum mengangkasa" aku hanya tersenyum, mengangguk, "aku seperti apa yang ada dalam puisi lelaki itu" Pada malam, petang dan kedinginan, kepasrahan segala kehidupan aku sandarkan Alun-alun Batu, 8 Desember 2019

"Kita Tidak Pernah Tahu Hari Esok"

Kita tidak pernah mengerti sebuah takdir, kita tidak pernah terima akan takdir, kita hanya ingin segala hal sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita terjebak di dalam takdir, kita terpisah akan takdir - takdir yang telah kita lakukan sendiri, takdir yang selalu bisa terulang dan kita perbaiki - dan kita tersatu dengan takdir. Aku ingin berjalan dengan kehendak tuhan, mencari sesuatu yang indah, menggapai sesuatu yang megah, tapi pada akhirnya aku berjalan dengan diriku sendiri, aku menggapai mimpi yang tak pernah aku tahu bagaimana akhir dan awalnya, aku terjebak dalam takdirku sendiri. Dalam kehidupan akan ada sebuah rindu yang tak pernah terfikir - rindu tak bisa terduga, rindu tak mempunyai kehendak dengan dirinya sendiri - rindu adalah takdir yang selalu hadir pada setiap waktu, benar waktu yang tak pernah kita inginkan. Malam ke 22 tahun yang telah kau lalui ini bukanlah hal yang selalu kau inginkan, bebatuan besar selalu ada dalam kelokan jalan, deru angin besa...

"Perjalanan Kopi (10)"

Malam ini aku benar-benar berjumpa denganmu, berjumpa dengan keluh kesah yang tak pernah kau tunjukkan padaku sebelumnya. Air mata akan menjadi puisimu malam ini, air mata yang mengalir tanpa disengaja, air mata yang menyatakan kasih dan cinta pada orang tuamu, aku merasakan itu semua, kegelisahan, dan kekecewaan. Setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk mencintai Nona, tak terkecuali diri ini Nona - mencintai dalam keadaaan tidak dicintai -, aku selalu bahagia Non ketika dirimu mengajak diriku beranjak mengikutimu, mungkin saja orang-orang akan mengatakan "Budak Cinta", kamu tahu nona? Betapa aku tidak peduli itu semua. Kali ini aku tak ditemani kopi dan rokok, aku tak merindukannya kali ini, karena rokok dan kopi sudah tergantikan dengan perjumpaan tadi. "Duh Pangeran, abdina minta tolong pasennengagi Nona abdina, andina cinta Pangeran" Nona, aku bahagia melihatmu tersenyum. Kunil, 06 Desember 2019

"Perjalanan Kopi (9)"

Sudah beberapa hari ini aku tak bersua kembali bersamamu, apa benar aku sudah menyadari perihal kecintaan yang aku pendam? Apa kau memilih setia dan menjaga hatinya? Sudahlah, kau taj berhak kembali merusak dan membuat bingung akan sebuah kehidupan cinta, aku tak mau membuat mu bersalah atau bahkan senyummu tak akan lagi hadir ketika kita bertemu. Mungkin aku akan menutupi segala hal yang berhubungan tentangmu, memiliki mu saat ini adalah sebuah kemustahilan yang menjerat, dan mencintaimu adalah sebuah anugerah yang tuhan berikan kepadaku. Aku titipkan hati ini pada tuhan, dan aku katakan "Terserah dirimu tuhan, mencintai adalah anugerah, memiliki adalah hadiah yang mungkin tak pernah aku bayangkan sebelumnya" Nona, pada setiap malam aku selalu menunggumu di bawah cahaya kuning, bersama alunan music dan suara dari setiap sudut warung kopi, aku tidak akan gegabah menghabiskan kopi susu yang sedari lalu mendingin dan mulai mengental, aku hanya ingin menikmati kopi dan ...

"Perjalanan Kopi (8)"

Mungkin kita tidak akan pernah tahu keberadaan rasa yang selalu terpendam selama ini, yang aku tahu aku mencintaimu selaksa cahaya bulan yang menerangi malam. Aku tak pernah tahu keberadaanmu dalam sebuah perasaan, mungkin saja kau tak pernah berjumpa dalam pertemuan kita, melainkan perjumpaanmu bersama orang lain. Apa kau tahu bagaimana aku ingin berjumpa denganmu setiap waktu? Aku menjumpaimu melawati munajat, seduhan kopi, sepulan asap rokok, dan sajak puisi-puisiku. "Duh pangeran, ajunan se ngagungih sadejeh ateh sareng alam saessenah, ajunan se maha oning sadejeh se bede, abdina cinta de' kaagungennah ajunan, abdina matorok ateh abdina, sadejeh se ajunan tantoagi abdina taremah" Kunil, 4 Desember 2019

"Perjalanan Kopi (7)"

Betapa pekat malam ini, tidak ada bulan ataupun bintang mengitari malam di pelataran warung kopi. Kamu tahu, aku haus dengan pekikan suara dan mekar senyummu yang tak kutemui malam ini, tak ada dahaga yang paling menyakiti daripada kehilangan senyumanmu. Perihal kecintaan dan asih yang selalu aku timang, rawat, dan selalu aku siram dengan air kopi dan asap rokok, aku lebih memilihmu untuk tetap tersenyum tanpa kau tahu betapa malam selalu akan menenggelamkanku dalam halu. Aku tidak ingin membenci siapapun termasuk dirimu dan seseorang yang selalu membuatmu tergesa-gesa untuk terhubung, aku tak akan membenci cinta yang tuhan wahyukan kepadaku, aku hanya ingin membenci bagaimana aku terpuruk dengan cintamu bahkan terseok-seok mengemis akanmu. "Duh Gusti, abdina pasra de' ajunan, ajunan dzat se maha oning de' sadejenah alam, abdina yakin ajunan bekal aberrik se pantes sareng se begus de' abdina" Kunil, 3 Desember 2019

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019