Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

"Perjalanan kopi (5)"

Aku selalu ragu perihal kecintaan yang tuhan berikan kepadaku, entah dirimu benar kecintaan, atau semu yang selalu aku harapkan. Perjalanan kali ini senyummu tidak menemani, bagaimana tidak senyummu selalu menjarak dari pandanganku. Seseorang selalu berkata "kita bisa menciptakan realitas cinta kita sendiri", aku pandang lama kata-kata itu, aku menemukanmu, aku selalu berjumpa denganmu dalam kealpaan. Sudah beribu kali aku mempelajari segala bentuk tafsir yang ada di dunia ini, tapi entah senyummu selalu saja tak tertafsirkan. Senyummu selalu membuatku candu akan beribu kata cinta dan asa, bagaimana tidak senyummu selalu mengajakku untuk berpetualang pada setiap lorong-lorong ketidakmungkinan. Perjalanan malam ini akan aku mulai bagaimana diriku mencintaimu dari ketidakmungkinan, kealpaan, dan dirimu menjelma beribu tafsir yang itu diriku sendiri. Bukit Cemara Tidar, 1 Desember 2019

"Perjalanan Kopi (4)"

Seduhan kopi kali ini tidak jauh beda seperti hari yang lalu - aku bersamamu, dan tentunya kau bersama orang lain - untung saja beberapa sajak musik memberiku banyak pengertian tentang hidup dan cinta. Masih banyak hal yang harus aku pelajari dari semesta, kepergian bukanlah kematian cinta, cinta akan selalu hidup dalam setiap derap langkah seorang pujangga. Pada malam, kopi, cahaya, dan buku aku ucapkan beribu kasih, sabab musabab menggigilku mulai tercipta. Pada tuhan dan semesta, cinta tercipta, cita melambung tinggi melebihi langit yang konon memiliki tujuh lapisan. Padamu aku cintai dan kasihi segala yang kau berikan, kita terikat dengan status manusia, dan selanjutnya aku serahkan pada tuhan dan semesta yang lebih tahu apa seharusnya terjadi. Ibu, pada kepulanganku selanjutnya, izinkan ragu, harap dan cintaku tertitip sempurna pada epitaf dirimu, sebab tiada penolakan pada dirimu. Kunil, 30 November 2019

"Perjalanan Kopi (3)"

Mungkin saja perjalanan kopi kali sangatlah menyakitkan, ketika dirimu tersenyum ria bersama orang lain. Beberapa waktu aku menahan kantuk begitu sangat untuk melihat mu tersenyum tapi tidak dengan orang lain. Bara api apa yang paling bara daripada rasa cemburu? Mungkin saja api neraka tidak lebih panas daripada bara cemburuku ini. Perjalanan kopi kali ini tidak sebaik perjalanan kemaren, sebelum itu kau datang dengan segelas kopi dari tetangga sebelah, kau berpamitan untuk bertandang begitu jauh, jauh dari hati dan mataku. Kebersamaanmu bersama orang lain membuatku mati kesekian kalinya, aku tidak pernah tahu siapa dibalik semua itu, aku tidak ingin mati kesekian kalinya bersama bara api cemburu ini. Aku tidak pernah bisa menerima sebuah perbedaan, padahal perbedaan adalah niscaya tuhan. "Tuhan selalu mengajarkan kita dengan sebuah perbedaan, tapi mengapa kita selalu marah ketika berbeda perasaan?" Kunil, 28 November 2019

"Perjalanan kopi (2)"

Alunan musik selalu terdengar dari sudut-sudut warung kopi, ketika itu kamu berada tepat di depanku. Kopi kita berbeda, tapi tetap dari asal muasalnya - kopi - "Es kopi susu" begitulah selalu yang kau katakan di permulaan perjalanan kopi kita. "Kopi susu" ada kepekatan yang terasa, pahit yang selalu menyelimuti, dan manis yang tak begitu menyeruak. Ketika penyesalanku perihal cerita cinta dalam novel yang aku resahkan, dirimu berkata begitu lantang "dirimu terlalu sibuk dengan ekspektasi" aku hanya tersenyum, tidakkah dirimu tahu bahwa kebahagiaanku selalu tercipta dari ekspektasi yang aku ciptakan? Dirimu yang selalu aku hadirkan dalam panggung kehidupan - akulah pencipta naskah, dan pemain didalamnya - dirimu tak bisa memberontak, karena akulah dalang dibalik drama ini. Dibawah langit dan bintang-bintang, aku melihat senyumanmu, kamu tahu? Bintang berpindah di hadapanku. "Mari kita ciptakan perjalanan kopi selanjutnya, tapi kamu yang akan menja...

"Perjalanan Kopi (1)"

Malam mulai bergelayut di kelopak mataku, berat rasanya untuk pergi dan menyia-nyiakan mu bermalam tanpa selimut dan alunan musik. Entah rindu mulai berjibaku menuntutku untuk mengakui sebuah rasa yang tak pernah bisa aku katakan, katamu rindu adalah sebuah elemen kehidupan yang pasti ada dalam diri seseorang, tapi rasa tak selamanya harus ada dalam sebuah persahabatan. Setelah kopi mulai mengering, asap rokok tidak akan ada di langit-langit, ketika itulah aku menghilang dari balik rindumu - rindu yang selalu membuat ku kelu, rindu yang selalu hadir dalam setiap doa dan tidur ku. Bisakah kita saling merindu layaknya sepasang kekasih? Atau bahkan rindu ini hanya beredar dalam pusat diriku saja? Tak apalah, mungkin saja rindu yang kau miliki masih bukan seputar tentang ku. Beberapa teman datang, menepuk pundak dan berkata lantang "Katakanlah! Manipulasi rasa tidak akan selalu membuatnya ragu terhadapmu" lantas aku tersenyum "sudahlah, aku lebih suka melihatnya tersenyu...

"Apologi Rindu"

Setelah usai berpestapora dengan jajaran kopi, es, bahkan jajanan lainnya kita saling memalingkan pandangan - aku dengan sebuah buku, dan kamu dengan sebuah laptop yang menyala - aku selalu memerhatikan mu layaknya sinar cahaya yang tak pernah pergi dari dunia ini. Beberapa segerombolan orang mulai sibuk dengan dunianya masing-masing, entah buku yang ada di tangan menjelma jelas wajahmu - tersenyum semerbak mawar dan syahdu layaknya biola dipenghujung tidur - Dalam setiap paragraf buku, kata-kata berubah menjadi doa dan komat-kamit dalam mulutku terlontar ke atas langit, menyentuh epitaf awan yang menghalangi sampainya pada tuhan. "Sekar, aku merindukan mu" kataku setelah beberapa lama tak berjumpa ria bersamamu, entah lidah ini kelu untuk mengatakannya. Ada beberapa orang yang mengusik keindahanmu tentang sebuah ikatan yang selalu aku bayangkan dan selalu dirimu sangkal "Kita hanyalah sepasang kawan dalam sebuah kehidupan" kali ini aku menegaskan agar keind...

"Rambu Lalu Lintas dalam perjalanan"

"Rambu Lalu Lintas dalam perjalanan" Dibeberapa perempatan dirimu menjelma menjadi lampu merah, seakan-akan memerintahku untuk berhenti, lantas ada beberapa orang yang menerobos tanpa takut pada apapun. Apakah aku harus berputar kembali? Kembali ke kota asal? Tidak Sekar, aku menunggu, menutup kaca dan memfokuskan pada jalan lampu merah yang masih menyala, entah bertahun atau bahkan berabad lampu itu akan berubah menjadi hijau, iya benar berwarna hijau, lalu akan aku tancap gas dengan pelan-pelan. Aku bukan pemberontak dalam cinta, akan aku patuhi rambu-rambu lalu lintas yang kau suguhkan, atau mungkin dirimu tidak akan pernah menyalakan lampu hijau, dan aku mulai menua di dalam mobil yang aku tumpangi!? Ada beberapa cara untuk tetap fokus yang aku lakukan dalam perjalanan menuju kediamanmu dari teriknya matahari yang membuatku silau, terperangah, bahkan membuat mobil yang aku tumpangi oleng. Kacamata hitam, dan beberapa batang rokok untuk menemani. Ada banyak pelajaran y...