Aku selalu ragu perihal kecintaan yang tuhan berikan kepadaku, entah dirimu benar kecintaan, atau semu yang selalu aku harapkan. Perjalanan kali ini senyummu tidak menemani, bagaimana tidak senyummu selalu menjarak dari pandanganku. Seseorang selalu berkata "kita bisa menciptakan realitas cinta kita sendiri", aku pandang lama kata-kata itu, aku menemukanmu, aku selalu berjumpa denganmu dalam kealpaan. Sudah beribu kali aku mempelajari segala bentuk tafsir yang ada di dunia ini, tapi entah senyummu selalu saja tak tertafsirkan. Senyummu selalu membuatku candu akan beribu kata cinta dan asa, bagaimana tidak senyummu selalu mengajakku untuk berpetualang pada setiap lorong-lorong ketidakmungkinan. Perjalanan malam ini akan aku mulai bagaimana diriku mencintaimu dari ketidakmungkinan, kealpaan, dan dirimu menjelma beribu tafsir yang itu diriku sendiri. Bukit Cemara Tidar, 1 Desember 2019
aku akan kembali seperti nelayan; mengarungi bahtera indah yang tercipta untuk mendapatkan beberapa ekor ikan, melemparkan jaring dan mengangkatnya, entah tak terbayang betapa indah seorang nelayan yang membawa ikan di tangan dengan senyum yang terlihat dari kejauhan, lalu bidadari melambaikan tangan dengan damai "mari kita pulang dan menyantap makanan kemudian beristirahat bersama"