Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018
Perempuan yang bersamaku hari ini 1/ Lama sudah tak kusuai debur gugup hati ini Beberapa saat ku liat dari balik kaca senyum indah yang bersuai di belantara hutan kota Katakan bahwa ini adalah kelopak yang akan tumbuh setelah dirimu bangkit dari rapuh mu 2/ Tak akan ada satupun serangga yang akan menumbangkan dan mengisap madumu Tak akan ada satupun angin maupun bencana lain yang akan menguburkan mu, kecuali pupuk yang akan aku beri setiap pagi 3/ Bersemilah kembali di tanah ku ini, akan ku beri air dan pupuk setiap hari, kan ku tatap dirimu setiap saat, akan ku selimuti dirimu kala angin mulai melanda, ku harap tuhan tidak berkata lain pada ketentuan yang aku impikan 4/ Berjanjilah tuhan akan menciptakan nya 20 april 
Aroma candu Ku tengok jendela desiran angin mengumbar mesra ku pejamkan mata sedikit senyum yang ku rebahkan mala mini Sejenak mengulang kembali mimpi yang terputus musabab angina yang begitu dahsyat torehan pena pun tak dapat menggambarkan betapa besar peristiwa hari itu Aromamu begitu candu di inderaku senyummu begitu sesat ku tatap mungkin hal itu lumpu menyebabkan beberapa senti kakiku tenggelam Berilah obat dari candumu ini vandu ini akan hilang bukan? mari ceritakan dimana jalan keluar berilah aku sebungkus aromamu jikalau nanti aku mulai merindu akan ku buka kembali bungkusan yang kau beri dan aku lahap percuma aromamu. Pasongsongan, 27 maret 2018
Nyelase ;beristirahatlah rindu Perjalanan yang singkat sore ini menemani seorang ibu yang merindu akan rongrongan malam yang amat membuatnya gelisah dahulu hari menjelma sebuah rindu yang selalu hidup dalam setiap do’a Sedikit celotehan   ibu itu merusak suasana sore ini ku tarik ulur nafas seraya ku buka lemabar perlembar yang penuh dengan aksara arab entah celotehan ibu mulai tenggelam dalam setiap lantunan do’a yang aku katakan ternyata ibu juga mengahafal do’a yang aku haturkan. Kita berdua duduk bersama dalam bongkahan batu yang berlumut menemani bongkahan batu nisan yang di tanami rumput liar di atasnya dan sinari terik matahari. “ibu kelak kita akan ikut tidur menengadah di bawah terik matahari ibu” Pasongsongan, 27 maret 2018
Hari yang menggigil ;merayakan Seperti lagu yang kita nikmati berdua di bawah hujan sedikit kau tatap ranum bola mataku ini lalu kau buang tatapan itu bersama gugupan malu yang ku senyumi dengan suguhan angina yang membuat kita menggigil Lima hari yang lalu, kamis yang begitu ranum ku sapu teras yang begitu sering kita tempati dulu kita telah meninggalkan sejarah itu sesekali ku temukan jejak kaki mungilmu sedikit bayangan di balik pintu ah, senyummu begitu sakit untuk ku lupakan Satu tahun lalu kita rayakan tempat pertama kita bersua hari ini biar aku saja yang merayakan hari menua tempat mendua Pasongsongan, 27 maret ‘18

pemuda nelayan

Balada pemuda nelayan Malam ini banyak cerita yang telah menjadi pendamping hidup, entah hidup ini merasa lebih baik. Banyak kepulan rokok dan seduhan coklat malam ini,   lalu canda ria mulai terlukis di antara raut muka yang tak setara, ku lihat taka da satupun rasa gelisah di belahan bibir mereka. “mari bakar lagi batang rokok yang tersisa, minum kembali coklat yang masih hangat” pelabuhan menjadi teman perahu yang terdiam bisu, deburan ombak yang tenang dan angina yang membawa pesan asap rokok ke udara. Sejanak kita mulai berlarian dengan cerita kita masing-masing, berebut tahta untuk menjadi pendongeng yang sebenarnya, ku lihat raut wajah yang antusias untuk bercerita, ku tawarkan kembali untuk sejenakmenghirup asap rokok dan meminum coklat yang masih hangat. Sejenak pelabuhan menjadi hening, lalu ketawa pun menjadi ramah-tamah pembubaran cerita malam ini, tak sedikit pesan yang aku bawa oleh-oleh untuk bekal berlayarku malam ini, dan kalian semua aka...