"Apa yang kau harapkan dari bulan Maulid? makanan yang banyak? seserahan yang beraneka ragam? rebutan makanan yang tak berujung? atau sekedar meramaikan saja agar dianggap pecinta Rasul?" ada yang benar-benar hilang dari sekujur pemahaman akan cinta, atau dirinya sudah masuk dalam dunia simulakrum dengan keadaan hidup yang sudah luput dari realitas--tepatnya hyperrealitas--tubuhnya sudah babakbelur oleh informasi, matanya merah menatap realitas yang amburadul, tak paham apa yang harus ia penuhi dan ikuti. kita menari dengan lagu yang setiap detiknya berubah, kita menari tanpa tahu bagaimana tarian yang tepat. manusia sudah lama dirundung oleh modernitas, otaknya sudah menjelajah jauh sampai perancis, namun hatinya berdiam diri di rumah, atau berhiruk-pikuk dalam diskotik. badan kita berada di atas dunia, namun hati sudah berkeliaran di atas neraka, jauh pada tuntunan nilai-nilai kemanusiaan.
aku akan kembali seperti nelayan; mengarungi bahtera indah yang tercipta untuk mendapatkan beberapa ekor ikan, melemparkan jaring dan mengangkatnya, entah tak terbayang betapa indah seorang nelayan yang membawa ikan di tangan dengan senyum yang terlihat dari kejauhan, lalu bidadari melambaikan tangan dengan damai "mari kita pulang dan menyantap makanan kemudian beristirahat bersama"