Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2022

Secuil Surat Pada Nabi

 "Apa yang kau harapkan dari bulan Maulid? makanan yang banyak? seserahan yang beraneka ragam? rebutan makanan yang tak berujung? atau sekedar meramaikan saja agar dianggap pecinta Rasul?" ada yang benar-benar hilang dari sekujur pemahaman akan cinta, atau dirinya sudah masuk dalam dunia simulakrum dengan keadaan hidup yang sudah luput dari realitas--tepatnya hyperrealitas--tubuhnya sudah babakbelur oleh informasi, matanya merah menatap realitas yang amburadul, tak paham apa yang harus ia penuhi dan ikuti. kita menari dengan lagu yang setiap detiknya berubah, kita menari tanpa tahu bagaimana tarian yang tepat. manusia sudah lama dirundung oleh modernitas, otaknya sudah menjelajah jauh sampai perancis, namun hatinya berdiam diri di rumah, atau berhiruk-pikuk dalam diskotik. badan kita berada di atas dunia, namun hati sudah berkeliaran di atas neraka, jauh pada tuntunan nilai-nilai kemanusiaan. 

Sajak Yang Pecah

perjumpaan dan gemuruh hujan menyatu dalam simbol tak beraturan gemercik air bertandang, bernada sendu, atau bahkan sedih bagai air mata yang terus mengucur di bawah awan hitam kita terlahir dalam kenestapaan hidup runcing, menusuk epitaf kewarasaan Ibu bumi menumbuh wacana bunga, rumput hijau, dan daun berdzikir manusia bersenandung ria, mata terpejam, dan menari dengan syahdu aku tak percaya masih terlihat anak-anak bermain di bawah hujan bajunya sudah berubah warna menjadi coklat, tak sedikitpun muka terlihat sedih mungkin sehabis hujan, raut mukanya akan berubah Ibu selalu saja tak enak hati melihat anaknya harus sakit Pusara yang penuh dengan bunga Bapak tak lelah bermain hujan dengan terlentang bermandikan air yang gigil, aku bertandang padanya sehabis sholat mantra-mantra dengan gegap gempita layaknya lauk-pauk "Bapak? maaf, hujan tak membiarkan aku keluar rumah, dan kau tak akan kesepian" Ibu sudah tertidur, hujan membuat manusia lelah anak yang tak kunjung pulang, me...