Langsung ke konten utama

Sajak Yang Pecah

perjumpaan dan gemuruh hujan menyatu dalam simbol tak beraturan
gemercik air bertandang, bernada sendu, atau bahkan sedih bagai air mata yang terus mengucur di bawah awan hitam
kita terlahir dalam kenestapaan hidup runcing, menusuk epitaf kewarasaan

Ibu bumi menumbuh wacana bunga, rumput hijau, dan daun berdzikir
manusia bersenandung ria, mata terpejam, dan menari dengan syahdu
aku tak percaya masih terlihat anak-anak bermain di bawah hujan
bajunya sudah berubah warna menjadi coklat, tak sedikitpun muka terlihat sedih
mungkin sehabis hujan, raut mukanya akan berubah
Ibu selalu saja tak enak hati melihat anaknya harus sakit

Pusara yang penuh dengan bunga
Bapak tak lelah bermain hujan dengan terlentang
bermandikan air yang gigil, aku bertandang padanya sehabis sholat
mantra-mantra dengan gegap gempita layaknya lauk-pauk
"Bapak? maaf, hujan tak membiarkan aku keluar rumah, dan kau tak akan kesepian"

Ibu sudah tertidur, hujan membuat manusia lelah
anak yang tak kunjung pulang, menangis sebelum dan sehabis hujan
sajadahnya basah, kacamatanya berembun oleh nafas yang tak teratur
Tuhan Agung, Muhammad kekasih para semesta alam, aku kembali pada-Mu

Yogyakarta, 14 Oktober 2022


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Jejak Perjalanan (1)"

Sudah sampai mana kita telah berjalan? Sudahkah kita beristirahat sejenak, meneguk air lalu menikmati alam semesta yang indah ini Nona? Perjalanan yang paling indah adalah perjalanan menuju sebuah hakikat, mengapa tidak jikalau hakikat adalah dzat yang selalu ada dalam kehidupan kita, sedangkan dirimu Nona selalu saja menghilang dalam kubungan sajak-sajak. Aku adalah pejalan waktu yang selalu lelah pada setiap perjalanan namun aku tak akan pernah berhenti untuk berjalan, karena tujuanku adalah diri-Nya yang tak berujung. Pada setiap pagi, selepas fajar merah dirimu selalu redup bersama mataku Nona, tapi mengapa setiap mataku terbangun dirimu selalu tersenyum dihadapanku Nona. Pada pemilik dzat yang maha agung aku titipkan segala takdirku, begitupun juga dirimu Nona. POM Bensin Suramadu, 15 Desember 2019
Perempuan yang bersamaku hari ini 1/ Lama sudah tak kusuai debur gugup hati ini Beberapa saat ku liat dari balik kaca senyum indah yang bersuai di belantara hutan kota Katakan bahwa ini adalah kelopak yang akan tumbuh setelah dirimu bangkit dari rapuh mu 2/ Tak akan ada satupun serangga yang akan menumbangkan dan mengisap madumu Tak akan ada satupun angin maupun bencana lain yang akan menguburkan mu, kecuali pupuk yang akan aku beri setiap pagi 3/ Bersemilah kembali di tanah ku ini, akan ku beri air dan pupuk setiap hari, kan ku tatap dirimu setiap saat, akan ku selimuti dirimu kala angin mulai melanda, ku harap tuhan tidak berkata lain pada ketentuan yang aku impikan 4/ Berjanjilah tuhan akan menciptakan nya 20 april 

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019