perjumpaan dan gemuruh hujan menyatu dalam simbol tak beraturan
gemercik air bertandang, bernada sendu, atau bahkan sedih bagai air mata yang terus mengucur di bawah awan hitam
kita terlahir dalam kenestapaan hidup runcing, menusuk epitaf kewarasaan
Ibu bumi menumbuh wacana bunga, rumput hijau, dan daun berdzikir
manusia bersenandung ria, mata terpejam, dan menari dengan syahdu
aku tak percaya masih terlihat anak-anak bermain di bawah hujan
bajunya sudah berubah warna menjadi coklat, tak sedikitpun muka terlihat sedih
mungkin sehabis hujan, raut mukanya akan berubah
Ibu selalu saja tak enak hati melihat anaknya harus sakit
Pusara yang penuh dengan bunga
Bapak tak lelah bermain hujan dengan terlentang
bermandikan air yang gigil, aku bertandang padanya sehabis sholat
mantra-mantra dengan gegap gempita layaknya lauk-pauk
"Bapak? maaf, hujan tak membiarkan aku keluar rumah, dan kau tak akan kesepian"
Ibu sudah tertidur, hujan membuat manusia lelah
anak yang tak kunjung pulang, menangis sebelum dan sehabis hujan
sajadahnya basah, kacamatanya berembun oleh nafas yang tak teratur
Tuhan Agung, Muhammad kekasih para semesta alam, aku kembali pada-Mu
Yogyakarta, 14 Oktober 2022
Komentar
Posting Komentar