Non, ketika malam sudah bertandang mengapa bintang mulai berjatuhan? atap rumah berisik, seperti kucing yang bertengkar dan membuat gaduh seisi rumah. aku hanya bisa terdiam, menutup kuping jalan yang sia-sia untuk dilakukan lalu, mataku membelalak, sungguh sulit untuk menutup mata setiap malam pagi hari, ketika sudah terbangun, mata ini lelap, sekujur tubuh mulai membeku Non, bagaimana jika kita bersepakat untuk menanggalkan segala zirah kehormatan bagaimana jika kau relakan mata ini untuk tidur pada malam hari apa kau masih bersedia untuk membuat kuburan ini basah dengan tangisan malaikat lelah untuk selalu menunda memberikan pertanyaan yang sulit untuk dijawab tapi entah, pertanyaan apapun tidak akan sesulit jika kau berada tepat dibalik nadiku Non, apa yang kau pahami dengan perdamaian, apa yang kau pahami dengan perjumpaan tanaman di teras rumah mulai layu, kau lupa untuk menyiraminya lagi tak seperti pekan lalu ketika kau disiplin untuk menyiram bunga setiap pukul 7 pa...
aku akan kembali seperti nelayan; mengarungi bahtera indah yang tercipta untuk mendapatkan beberapa ekor ikan, melemparkan jaring dan mengangkatnya, entah tak terbayang betapa indah seorang nelayan yang membawa ikan di tangan dengan senyum yang terlihat dari kejauhan, lalu bidadari melambaikan tangan dengan damai "mari kita pulang dan menyantap makanan kemudian beristirahat bersama"