Langsung ke konten utama

pemuda nelayan



Balada pemuda nelayan


Malam ini banyak cerita yang telah menjadi pendamping hidup, entah hidup ini merasa lebih baik.
Banyak kepulan rokok dan seduhan coklat malam ini,  lalu canda ria mulai terlukis di antara raut muka yang tak setara, ku lihat taka da satupun rasa gelisah di belahan bibir mereka.

“mari bakar lagi batang rokok yang tersisa, minum kembali coklat yang masih hangat” pelabuhan menjadi teman perahu yang terdiam bisu, deburan ombak yang tenang dan angina yang membawa pesan asap rokok ke udara.

Sejanak kita mulai berlarian dengan cerita kita masing-masing, berebut tahta untuk menjadi pendongeng yang sebenarnya, ku lihat raut wajah yang antusias untuk bercerita, ku tawarkan kembali untuk sejenakmenghirup asap rokok dan meminum coklat yang masih hangat.

Sejenak pelabuhan menjadi hening, lalu ketawa pun menjadi ramah-tamah pembubaran cerita malam ini, tak sedikit pesan yang aku bawa oleh-oleh untuk bekal berlayarku malam ini, dan kalian semua akan menjadi momentum perahu yang akan aku tumpangi esok.

Mari kita bertukar senyum terlebih dahulu sebelum ombak akan menenggelamkan perahu kita malam ini.

Pasongsongan 11 november 2017


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Jejak Perjalanan (1)"

Sudah sampai mana kita telah berjalan? Sudahkah kita beristirahat sejenak, meneguk air lalu menikmati alam semesta yang indah ini Nona? Perjalanan yang paling indah adalah perjalanan menuju sebuah hakikat, mengapa tidak jikalau hakikat adalah dzat yang selalu ada dalam kehidupan kita, sedangkan dirimu Nona selalu saja menghilang dalam kubungan sajak-sajak. Aku adalah pejalan waktu yang selalu lelah pada setiap perjalanan namun aku tak akan pernah berhenti untuk berjalan, karena tujuanku adalah diri-Nya yang tak berujung. Pada setiap pagi, selepas fajar merah dirimu selalu redup bersama mataku Nona, tapi mengapa setiap mataku terbangun dirimu selalu tersenyum dihadapanku Nona. Pada pemilik dzat yang maha agung aku titipkan segala takdirku, begitupun juga dirimu Nona. POM Bensin Suramadu, 15 Desember 2019
Perempuan yang bersamaku hari ini 1/ Lama sudah tak kusuai debur gugup hati ini Beberapa saat ku liat dari balik kaca senyum indah yang bersuai di belantara hutan kota Katakan bahwa ini adalah kelopak yang akan tumbuh setelah dirimu bangkit dari rapuh mu 2/ Tak akan ada satupun serangga yang akan menumbangkan dan mengisap madumu Tak akan ada satupun angin maupun bencana lain yang akan menguburkan mu, kecuali pupuk yang akan aku beri setiap pagi 3/ Bersemilah kembali di tanah ku ini, akan ku beri air dan pupuk setiap hari, kan ku tatap dirimu setiap saat, akan ku selimuti dirimu kala angin mulai melanda, ku harap tuhan tidak berkata lain pada ketentuan yang aku impikan 4/ Berjanjilah tuhan akan menciptakan nya 20 april 

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019