Langsung ke konten utama

"Apologi Rindu"



Setelah usai berpestapora dengan jajaran kopi, es, bahkan jajanan lainnya kita saling memalingkan pandangan - aku dengan sebuah buku, dan kamu dengan sebuah laptop yang menyala - aku selalu memerhatikan mu layaknya sinar cahaya yang tak pernah pergi dari dunia ini.
Beberapa segerombolan orang mulai sibuk dengan dunianya masing-masing, entah buku yang ada di tangan menjelma jelas wajahmu - tersenyum semerbak mawar dan syahdu layaknya biola dipenghujung tidur - Dalam setiap paragraf buku, kata-kata berubah menjadi doa dan komat-kamit dalam mulutku terlontar ke atas langit, menyentuh epitaf awan yang menghalangi sampainya pada tuhan.
"Sekar, aku merindukan mu" kataku setelah beberapa lama tak berjumpa ria bersamamu, entah lidah ini kelu untuk mengatakannya.
Ada beberapa orang yang mengusik keindahanmu tentang sebuah ikatan yang selalu aku bayangkan dan selalu dirimu sangkal "Kita hanyalah sepasang kawan dalam sebuah kehidupan" kali ini aku menegaskan agar keindahan mu tidak terusik lagi, walaupun kesalah fahaman  adalah bentuk senyum yang aku dambakan.
Sebelum kita berpisah, dan kantuk mulai menenggelamkan ku dalam indah wajahmu, aku memandang lekat dirimu dari beberapa meter - benar, bidadari tak seharusnya ada di hadapanku, tak seharusnya bisa aku miliki - lalu dirimu menoleh, lantas kita saling bertukar senyum.
Sekar, ada beberapa bait yang tak sengaja aku temukan dalam bukuku "Merawat kesia-siaan itu dosa"
"Sekar Indurasmi"
Malang, 24 November 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Jejak Perjalanan (1)"

Sudah sampai mana kita telah berjalan? Sudahkah kita beristirahat sejenak, meneguk air lalu menikmati alam semesta yang indah ini Nona? Perjalanan yang paling indah adalah perjalanan menuju sebuah hakikat, mengapa tidak jikalau hakikat adalah dzat yang selalu ada dalam kehidupan kita, sedangkan dirimu Nona selalu saja menghilang dalam kubungan sajak-sajak. Aku adalah pejalan waktu yang selalu lelah pada setiap perjalanan namun aku tak akan pernah berhenti untuk berjalan, karena tujuanku adalah diri-Nya yang tak berujung. Pada setiap pagi, selepas fajar merah dirimu selalu redup bersama mataku Nona, tapi mengapa setiap mataku terbangun dirimu selalu tersenyum dihadapanku Nona. Pada pemilik dzat yang maha agung aku titipkan segala takdirku, begitupun juga dirimu Nona. POM Bensin Suramadu, 15 Desember 2019
Perempuan yang bersamaku hari ini 1/ Lama sudah tak kusuai debur gugup hati ini Beberapa saat ku liat dari balik kaca senyum indah yang bersuai di belantara hutan kota Katakan bahwa ini adalah kelopak yang akan tumbuh setelah dirimu bangkit dari rapuh mu 2/ Tak akan ada satupun serangga yang akan menumbangkan dan mengisap madumu Tak akan ada satupun angin maupun bencana lain yang akan menguburkan mu, kecuali pupuk yang akan aku beri setiap pagi 3/ Bersemilah kembali di tanah ku ini, akan ku beri air dan pupuk setiap hari, kan ku tatap dirimu setiap saat, akan ku selimuti dirimu kala angin mulai melanda, ku harap tuhan tidak berkata lain pada ketentuan yang aku impikan 4/ Berjanjilah tuhan akan menciptakan nya 20 april 

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019