Setelah usai berpestapora dengan jajaran kopi, es, bahkan jajanan lainnya kita saling memalingkan pandangan - aku dengan sebuah buku, dan kamu dengan sebuah laptop yang menyala - aku selalu memerhatikan mu layaknya sinar cahaya yang tak pernah pergi dari dunia ini.
Beberapa segerombolan orang mulai sibuk dengan dunianya masing-masing, entah buku yang ada di tangan menjelma jelas wajahmu - tersenyum semerbak mawar dan syahdu layaknya biola dipenghujung tidur - Dalam setiap paragraf buku, kata-kata berubah menjadi doa dan komat-kamit dalam mulutku terlontar ke atas langit, menyentuh epitaf awan yang menghalangi sampainya pada tuhan.
"Sekar, aku merindukan mu" kataku setelah beberapa lama tak berjumpa ria bersamamu, entah lidah ini kelu untuk mengatakannya.
Ada beberapa orang yang mengusik keindahanmu tentang sebuah ikatan yang selalu aku bayangkan dan selalu dirimu sangkal "Kita hanyalah sepasang kawan dalam sebuah kehidupan" kali ini aku menegaskan agar keindahan mu tidak terusik lagi, walaupun kesalah fahaman adalah bentuk senyum yang aku dambakan.
Sebelum kita berpisah, dan kantuk mulai menenggelamkan ku dalam indah wajahmu, aku memandang lekat dirimu dari beberapa meter - benar, bidadari tak seharusnya ada di hadapanku, tak seharusnya bisa aku miliki - lalu dirimu menoleh, lantas kita saling bertukar senyum.
Sekar, ada beberapa bait yang tak sengaja aku temukan dalam bukuku "Merawat kesia-siaan itu dosa"
"Sekar Indurasmi"
Beberapa segerombolan orang mulai sibuk dengan dunianya masing-masing, entah buku yang ada di tangan menjelma jelas wajahmu - tersenyum semerbak mawar dan syahdu layaknya biola dipenghujung tidur - Dalam setiap paragraf buku, kata-kata berubah menjadi doa dan komat-kamit dalam mulutku terlontar ke atas langit, menyentuh epitaf awan yang menghalangi sampainya pada tuhan.
"Sekar, aku merindukan mu" kataku setelah beberapa lama tak berjumpa ria bersamamu, entah lidah ini kelu untuk mengatakannya.
Ada beberapa orang yang mengusik keindahanmu tentang sebuah ikatan yang selalu aku bayangkan dan selalu dirimu sangkal "Kita hanyalah sepasang kawan dalam sebuah kehidupan" kali ini aku menegaskan agar keindahan mu tidak terusik lagi, walaupun kesalah fahaman adalah bentuk senyum yang aku dambakan.
Sebelum kita berpisah, dan kantuk mulai menenggelamkan ku dalam indah wajahmu, aku memandang lekat dirimu dari beberapa meter - benar, bidadari tak seharusnya ada di hadapanku, tak seharusnya bisa aku miliki - lalu dirimu menoleh, lantas kita saling bertukar senyum.
Sekar, ada beberapa bait yang tak sengaja aku temukan dalam bukuku "Merawat kesia-siaan itu dosa"
"Sekar Indurasmi"
Malang, 24 November 2019
Komentar
Posting Komentar