Langsung ke konten utama

"Rambu Lalu Lintas dalam perjalanan"

"Rambu Lalu Lintas dalam perjalanan"

Dibeberapa perempatan dirimu menjelma menjadi lampu merah, seakan-akan memerintahku untuk berhenti, lantas ada beberapa orang yang menerobos tanpa takut pada apapun. Apakah aku harus berputar kembali? Kembali ke kota asal? Tidak Sekar, aku menunggu, menutup kaca dan memfokuskan pada jalan lampu merah yang masih menyala, entah bertahun atau bahkan berabad lampu itu akan berubah menjadi hijau, iya benar berwarna hijau, lalu akan aku tancap gas dengan pelan-pelan. Aku bukan pemberontak dalam cinta, akan aku patuhi rambu-rambu lalu lintas yang kau suguhkan, atau mungkin dirimu tidak akan pernah menyalakan lampu hijau, dan aku mulai menua di dalam mobil yang aku tumpangi!?
Ada beberapa cara untuk tetap fokus yang aku lakukan dalam perjalanan menuju kediamanmu dari teriknya matahari yang membuatku silau, terperangah, bahkan membuat mobil yang aku tumpangi oleng. Kacamata hitam, dan beberapa batang rokok untuk menemani. Ada banyak pelajaran yang aku dapatkan dalam setiap perjalanan menuju rumahmu Sekar, baik dari seorang penjaga amal tua yang berdiri di terik matahari, seorang kakek penjajah koran, atau bahkan seorang anak kecil yang mengayuh sepeda dipinggir jalan raya tanpa takut terjatuh. Perjalananku sangat indah Sekar, jangan kau khawatir dengan segala kemungkinan yang engkau munculkan kelak.
"Sekar"

Lamongan, 22 November 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Jejak Perjalanan (1)"

Sudah sampai mana kita telah berjalan? Sudahkah kita beristirahat sejenak, meneguk air lalu menikmati alam semesta yang indah ini Nona? Perjalanan yang paling indah adalah perjalanan menuju sebuah hakikat, mengapa tidak jikalau hakikat adalah dzat yang selalu ada dalam kehidupan kita, sedangkan dirimu Nona selalu saja menghilang dalam kubungan sajak-sajak. Aku adalah pejalan waktu yang selalu lelah pada setiap perjalanan namun aku tak akan pernah berhenti untuk berjalan, karena tujuanku adalah diri-Nya yang tak berujung. Pada setiap pagi, selepas fajar merah dirimu selalu redup bersama mataku Nona, tapi mengapa setiap mataku terbangun dirimu selalu tersenyum dihadapanku Nona. Pada pemilik dzat yang maha agung aku titipkan segala takdirku, begitupun juga dirimu Nona. POM Bensin Suramadu, 15 Desember 2019
Perempuan yang bersamaku hari ini 1/ Lama sudah tak kusuai debur gugup hati ini Beberapa saat ku liat dari balik kaca senyum indah yang bersuai di belantara hutan kota Katakan bahwa ini adalah kelopak yang akan tumbuh setelah dirimu bangkit dari rapuh mu 2/ Tak akan ada satupun serangga yang akan menumbangkan dan mengisap madumu Tak akan ada satupun angin maupun bencana lain yang akan menguburkan mu, kecuali pupuk yang akan aku beri setiap pagi 3/ Bersemilah kembali di tanah ku ini, akan ku beri air dan pupuk setiap hari, kan ku tatap dirimu setiap saat, akan ku selimuti dirimu kala angin mulai melanda, ku harap tuhan tidak berkata lain pada ketentuan yang aku impikan 4/ Berjanjilah tuhan akan menciptakan nya 20 april 

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019