Langsung ke konten utama

"Perjalanan Kopi (14)"

Malam adalah tempat paling nyaman ketika aku mulai menuliskan segala sajak tentangmu Nona, bagaimana tidak malam selalu menghadirkanmu lebih sempurna daripada pagi - tidak ada gangguan apapun, bahkan aku ditemani bintang, bulan, kopi dan rokok untuk aku tuliskan manuskrip tentang perjalanan kopiku ini Nona.

Esok 15 hari perjalanan kopiku tertuliskan tentangmu, tentang bagaimana aku tidak bisa bercerita apapun tentang hati kecuali dengan tulisan.

Kata orang tulisan lebih jujur dan setia kepada pujangga, tapi menurutku tulisan tidak mendatangkan mu sempurna dalam tulisan, dirimu lebih sempurna daripada sajak tulisanku Nona.

Mari kita beranjak kembali 4,5 tahun silam, keberadaan kita yang selalu berteman, dan kita berada di genggaman orang lain, dan pada akhirnya aku merasa tersakiti akan ikatan teman.

Nona, sudah lama ketika dirimu mengatakan ingin memutuskan hubungan yang lalu, saranku itu adalah kata hati agar dirimu menjadi utuh milikku.

Mungkin sampai saat ini dirimu tak pernah mengerti keberadaan rasa yang sulit aku utarakan, sebut saja diriku sebagai pujangga yang sembunyi dibalik peperangan.

Aku yakin Nona, cinta tidak akan membunuh siapa-siapa, tidak akan menyakiti siapa-siapa, cinta adalah takdir, mencintai adalah kehidupan bagiku, aku tak kuasa menolak untuk mencintaimu, mungkin saja dirimu akan berkata lantas?

Nona, biarkan rasa ini tumbuh atau bahkan mati seraya berjalannya waktu, aku yakin tuhan dan alam semesta menyimpan banyak cerita-cerita yang tidak akan pernah kita ketahui sebelumnya.

Selamat malam Nona, boleh saja dirimu menolak keberadaanku, tapi dirimu tidak bisa menolak rasa cintaku ini Nona.

J-COFFE, 11 Desember 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Jejak Perjalanan (1)"

Sudah sampai mana kita telah berjalan? Sudahkah kita beristirahat sejenak, meneguk air lalu menikmati alam semesta yang indah ini Nona? Perjalanan yang paling indah adalah perjalanan menuju sebuah hakikat, mengapa tidak jikalau hakikat adalah dzat yang selalu ada dalam kehidupan kita, sedangkan dirimu Nona selalu saja menghilang dalam kubungan sajak-sajak. Aku adalah pejalan waktu yang selalu lelah pada setiap perjalanan namun aku tak akan pernah berhenti untuk berjalan, karena tujuanku adalah diri-Nya yang tak berujung. Pada setiap pagi, selepas fajar merah dirimu selalu redup bersama mataku Nona, tapi mengapa setiap mataku terbangun dirimu selalu tersenyum dihadapanku Nona. Pada pemilik dzat yang maha agung aku titipkan segala takdirku, begitupun juga dirimu Nona. POM Bensin Suramadu, 15 Desember 2019
Perempuan yang bersamaku hari ini 1/ Lama sudah tak kusuai debur gugup hati ini Beberapa saat ku liat dari balik kaca senyum indah yang bersuai di belantara hutan kota Katakan bahwa ini adalah kelopak yang akan tumbuh setelah dirimu bangkit dari rapuh mu 2/ Tak akan ada satupun serangga yang akan menumbangkan dan mengisap madumu Tak akan ada satupun angin maupun bencana lain yang akan menguburkan mu, kecuali pupuk yang akan aku beri setiap pagi 3/ Bersemilah kembali di tanah ku ini, akan ku beri air dan pupuk setiap hari, kan ku tatap dirimu setiap saat, akan ku selimuti dirimu kala angin mulai melanda, ku harap tuhan tidak berkata lain pada ketentuan yang aku impikan 4/ Berjanjilah tuhan akan menciptakan nya 20 april 

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019