Kita tidak pernah mengerti sebuah takdir, kita tidak pernah terima akan takdir, kita hanya ingin segala hal sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Kita terjebak di dalam takdir, kita terpisah akan takdir - takdir yang telah kita lakukan sendiri, takdir yang selalu bisa terulang dan kita perbaiki - dan kita tersatu dengan takdir.
Aku ingin berjalan dengan kehendak tuhan, mencari sesuatu yang indah, menggapai sesuatu yang megah, tapi pada akhirnya aku berjalan dengan diriku sendiri, aku menggapai mimpi yang tak pernah aku tahu bagaimana akhir dan awalnya, aku terjebak dalam takdirku sendiri.
Dalam kehidupan akan ada sebuah rindu yang tak pernah terfikir - rindu tak bisa terduga, rindu tak mempunyai kehendak dengan dirinya sendiri - rindu adalah takdir yang selalu hadir pada setiap waktu, benar waktu yang tak pernah kita inginkan.
Malam ke 22 tahun yang telah kau lalui ini bukanlah hal yang selalu kau inginkan, bebatuan besar selalu ada dalam kelokan jalan, deru angin besar selalu menyertai perjalananmu.
Surat ini aku tulis untuk mengenang kembali kehidupan yang selalu hilang, kehidupan yang akan mengajarkan kehilangan, kehidupan yang selalu akan mengenalkan pada kita segala macam batu dan rintangan, kehidupan yang selalu akan mengajakmu untuk terlalap dan hilang.
Aku tidak pernah tahu akan akhir dalam kehidupan ini, aku tidak tahu cara mengakhiri kehidupan ini.
Angin akan membawa ucapan hangat selamatku ini padamu - mungkin saja angin menyusup melewati lubang pintu-pintumu atau melewati jendela dan genteng-gentengmu, lalu angin akan memelukmu dan mengecup telinga mu indah.
"Duh pangeran, pa lanjeng agi omar adek abdina, parengagi ka odik en se sajelen sareng pangaterronah!"
Kopi Klasik, 7 Desember 2019
Komentar
Posting Komentar