Langsung ke konten utama

"Kita Tidak Pernah Tahu Hari Esok"


Kita tidak pernah mengerti sebuah takdir, kita tidak pernah terima akan takdir, kita hanya ingin segala hal sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Kita terjebak di dalam takdir, kita terpisah akan takdir - takdir yang telah kita lakukan sendiri, takdir yang selalu bisa terulang dan kita perbaiki - dan kita tersatu dengan takdir.
Aku ingin berjalan dengan kehendak tuhan, mencari sesuatu yang indah, menggapai sesuatu yang megah, tapi pada akhirnya aku berjalan dengan diriku sendiri, aku menggapai mimpi yang tak pernah aku tahu bagaimana akhir dan awalnya, aku terjebak dalam takdirku sendiri.

Dalam kehidupan akan ada sebuah rindu yang tak pernah terfikir - rindu tak bisa terduga, rindu tak mempunyai kehendak dengan dirinya sendiri - rindu adalah takdir yang selalu hadir pada setiap waktu, benar waktu yang tak pernah kita inginkan.

Malam ke 22 tahun yang telah kau lalui ini bukanlah hal yang selalu kau inginkan, bebatuan besar selalu ada dalam kelokan jalan, deru angin besar selalu menyertai perjalananmu.

Surat ini aku tulis untuk mengenang kembali kehidupan yang selalu hilang, kehidupan yang akan mengajarkan kehilangan, kehidupan yang selalu akan mengenalkan pada kita segala macam batu dan rintangan, kehidupan yang selalu akan mengajakmu untuk terlalap dan hilang.

Aku tidak pernah tahu akan akhir dalam kehidupan ini, aku tidak tahu cara mengakhiri kehidupan ini.

Angin akan membawa ucapan hangat selamatku ini padamu - mungkin saja angin menyusup melewati lubang pintu-pintumu atau melewati jendela dan genteng-gentengmu, lalu angin akan memelukmu dan mengecup telinga mu indah.

"Duh pangeran, pa lanjeng agi omar adek abdina, parengagi ka odik en se sajelen sareng pangaterronah!"

Kopi Klasik, 7 Desember 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berhulu pada Hujan

  menyusuri seteiap manuskrip yang sudah usang, menerjemahkan dan memulai kembali setiap kata yang telah tertulis. aku terdiam pada kata yang telah usai, ditempa oleh air yang membuatnya kacau, dan aku kembali kepad kata pertama, mencoba segala usaha kembali kepada hari dimana tulisan itu ditulis, aku menemukannya, sedikit senyum ini terumbar, lantas aku menemukanmu dengan senyum yang sudah lama aku lupakan "kau benar dengan tidak mencintaiku Nona"  aku terburu-buru menutup naskah itu kembali, terasa nyeri ke hulu hati paling lubuk, dan kau benar-benar sudah usang untuk aku hampiri kembali, tapi hujan dan deras membujuk diriku dan memindahkan pandangan pada gemericik air di atas tanah, lalu ilalang seakan berdzikir dengan indah, megisyaratkan akan keindahan senyummu yang pernah kau ukir bersamaku ketika hujan. aku tak bisa melupakan tangan yang kau julurkan untuk menghadang air hujan yang ingin jatuh ke tanah, dengan pejam yang kau lakukan, aku menirukannya, aku meniru untuk ...

"Perjalanan Kopi (19)"

Aku tidak sempat memanifestasikan hujan tadi menjadi sebuah sajak tentang dirimu nona, aku terlalu menghayati perjumpaan kita melewati hujan, bahkan dirimu datang melewati hujan dan deru atap yang ramai. Sempat saja aku bertanya perihal keadaan dirimu, sudahkah dirimu menikmati hujan malam ini Nona? Mungkin saja disana makna hujan berubah seseorang yang bukan aku, atau bahkan hujan akan membawamu menyelami kitab kuno yang selalu kau pelajari. Beberapa waktu lalu dirimu mempertanyakan objek dalam setiap sajakku, apa dirimu berpura-pura tidak tahu Nona? Atau bahkan dirimu benar tidak tahu? Atau lebih buruk kau tidak tahu menahu objek sajakku Nona? Tersenyumlah Nona, akan aku jawab perihal objek dalam setiap sajakku ini, sajakku adalah manifestasi cinta dan rindu padamu Nona, seorang Nona yang mempunyai senyum yang meluluhlantakkan setiap kota layaknya atom. J-COFFE setelah hujan, 23 Desember 2019

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019