Malam itu pada saat sesapan kopi pertama seorang penjual puisi menghampiriku yang sedang bersetubuh dengan rindu. Ia kicaukan bulir-bulir sajak bernama angan dan kenang. Mereka berdua makhluk beda dimensi. Angan bersamaku saat ku memilikimu, dan kenang bersamaku saat ku melepasmu kala itu. Sedang rindu yang ku setubuhi sedari tadi membutakanku pada yang nyata.
Beberapa saat lalu ada lelaki menghampiri, "permisi, apa boleh saya menjual puisi" silahkan kataku, lantas kenangan mulai membuncah di atas kepala, berkeling di atas ubun-ubun, "layang-layangku jatuh sebelum mengangkasa" aku hanya tersenyum, mengangguk, "aku seperti apa yang ada dalam puisi lelaki itu"
Pada malam, petang dan kedinginan, kepasrahan segala kehidupan aku sandarkan
Alun-alun Batu, 8 Desember 2019
Beberapa saat lalu ada lelaki menghampiri, "permisi, apa boleh saya menjual puisi" silahkan kataku, lantas kenangan mulai membuncah di atas kepala, berkeling di atas ubun-ubun, "layang-layangku jatuh sebelum mengangkasa" aku hanya tersenyum, mengangguk, "aku seperti apa yang ada dalam puisi lelaki itu"
Pada malam, petang dan kedinginan, kepasrahan segala kehidupan aku sandarkan
Alun-alun Batu, 8 Desember 2019
Komentar
Posting Komentar