Langsung ke konten utama

Postingan

Secuil Surat Pada Nabi

 "Apa yang kau harapkan dari bulan Maulid? makanan yang banyak? seserahan yang beraneka ragam? rebutan makanan yang tak berujung? atau sekedar meramaikan saja agar dianggap pecinta Rasul?" ada yang benar-benar hilang dari sekujur pemahaman akan cinta, atau dirinya sudah masuk dalam dunia simulakrum dengan keadaan hidup yang sudah luput dari realitas--tepatnya hyperrealitas--tubuhnya sudah babakbelur oleh informasi, matanya merah menatap realitas yang amburadul, tak paham apa yang harus ia penuhi dan ikuti. kita menari dengan lagu yang setiap detiknya berubah, kita menari tanpa tahu bagaimana tarian yang tepat. manusia sudah lama dirundung oleh modernitas, otaknya sudah menjelajah jauh sampai perancis, namun hatinya berdiam diri di rumah, atau berhiruk-pikuk dalam diskotik. badan kita berada di atas dunia, namun hati sudah berkeliaran di atas neraka, jauh pada tuntunan nilai-nilai kemanusiaan. 
Postingan terbaru

Sajak Yang Pecah

perjumpaan dan gemuruh hujan menyatu dalam simbol tak beraturan gemercik air bertandang, bernada sendu, atau bahkan sedih bagai air mata yang terus mengucur di bawah awan hitam kita terlahir dalam kenestapaan hidup runcing, menusuk epitaf kewarasaan Ibu bumi menumbuh wacana bunga, rumput hijau, dan daun berdzikir manusia bersenandung ria, mata terpejam, dan menari dengan syahdu aku tak percaya masih terlihat anak-anak bermain di bawah hujan bajunya sudah berubah warna menjadi coklat, tak sedikitpun muka terlihat sedih mungkin sehabis hujan, raut mukanya akan berubah Ibu selalu saja tak enak hati melihat anaknya harus sakit Pusara yang penuh dengan bunga Bapak tak lelah bermain hujan dengan terlentang bermandikan air yang gigil, aku bertandang padanya sehabis sholat mantra-mantra dengan gegap gempita layaknya lauk-pauk "Bapak? maaf, hujan tak membiarkan aku keluar rumah, dan kau tak akan kesepian" Ibu sudah tertidur, hujan membuat manusia lelah anak yang tak kunjung pulang, me...

Atap Yang Berisik

 Non, ketika malam sudah bertandang mengapa bintang mulai berjatuhan? atap rumah berisik, seperti kucing yang bertengkar dan membuat gaduh seisi rumah. aku hanya bisa terdiam, menutup kuping jalan yang sia-sia untuk dilakukan lalu, mataku membelalak, sungguh sulit untuk menutup mata setiap malam pagi hari, ketika sudah terbangun, mata ini lelap, sekujur tubuh mulai membeku  Non, bagaimana jika kita bersepakat untuk menanggalkan segala zirah kehormatan bagaimana jika kau relakan mata ini untuk tidur pada malam hari apa kau masih bersedia untuk membuat kuburan ini basah dengan tangisan malaikat lelah untuk selalu menunda memberikan pertanyaan yang sulit untuk dijawab tapi entah, pertanyaan apapun tidak akan sesulit jika kau berada tepat dibalik nadiku Non, apa yang kau pahami dengan perdamaian, apa yang kau pahami dengan perjumpaan tanaman di teras rumah mulai layu, kau lupa untuk menyiraminya lagi tak seperti pekan lalu ketika kau disiplin untuk menyiram bunga setiap pukul 7 pa...

Berhulu pada Hujan

  menyusuri seteiap manuskrip yang sudah usang, menerjemahkan dan memulai kembali setiap kata yang telah tertulis. aku terdiam pada kata yang telah usai, ditempa oleh air yang membuatnya kacau, dan aku kembali kepad kata pertama, mencoba segala usaha kembali kepada hari dimana tulisan itu ditulis, aku menemukannya, sedikit senyum ini terumbar, lantas aku menemukanmu dengan senyum yang sudah lama aku lupakan "kau benar dengan tidak mencintaiku Nona"  aku terburu-buru menutup naskah itu kembali, terasa nyeri ke hulu hati paling lubuk, dan kau benar-benar sudah usang untuk aku hampiri kembali, tapi hujan dan deras membujuk diriku dan memindahkan pandangan pada gemericik air di atas tanah, lalu ilalang seakan berdzikir dengan indah, megisyaratkan akan keindahan senyummu yang pernah kau ukir bersamaku ketika hujan. aku tak bisa melupakan tangan yang kau julurkan untuk menghadang air hujan yang ingin jatuh ke tanah, dengan pejam yang kau lakukan, aku menirukannya, aku meniru untuk ...

"Jejak Perjalanan (7)"

Akhirnya aku mencium aroma harum madura dan segala kemacetan yang jarang aku lihat di setiap perjalanan, aku pergi sejenak dari hingar-bingar kota yang penuh dengan kebencian dan dengki. Ada banyak sekali keraguan dalam perjalanan menuju rumah, hidup sendiri adalah sebuah kebingungan bagiku Nona, bagaimana tidak jikalau diriku masih belum mengetahui akan hakikat kehidupan yang tuhan berikan kepadaku. Langit yang mendung dan angin yang bercampur dengan hawa panas melempar segala kebingungan dengan sajak yang selalu aku katakan dalam setiap perjalanan, aku rindu ibu, tak juapun bapak yang beristirahat dalam tumpukan tanah dan beberapa bau kemenyan di atasnya. Nona, perjumpaan kita malam tadi sungguh membuatku untuk harus merindukanmu selalu, tapi ketika rindu itu hadir dan meninabobokan diriku, aku meronta ingin pergi untuk menuai kembali sajak yang lalu untuk aku sirami lagi, akan tetapi tetap saja tunas itu selalu mati walaupun selalu aku siram dengan dentuman-dentuman suara. ...

"Perjalanan Kopi (19)"

Aku tidak sempat memanifestasikan hujan tadi menjadi sebuah sajak tentang dirimu nona, aku terlalu menghayati perjumpaan kita melewati hujan, bahkan dirimu datang melewati hujan dan deru atap yang ramai. Sempat saja aku bertanya perihal keadaan dirimu, sudahkah dirimu menikmati hujan malam ini Nona? Mungkin saja disana makna hujan berubah seseorang yang bukan aku, atau bahkan hujan akan membawamu menyelami kitab kuno yang selalu kau pelajari. Beberapa waktu lalu dirimu mempertanyakan objek dalam setiap sajakku, apa dirimu berpura-pura tidak tahu Nona? Atau bahkan dirimu benar tidak tahu? Atau lebih buruk kau tidak tahu menahu objek sajakku Nona? Tersenyumlah Nona, akan aku jawab perihal objek dalam setiap sajakku ini, sajakku adalah manifestasi cinta dan rindu padamu Nona, seorang Nona yang mempunyai senyum yang meluluhlantakkan setiap kota layaknya atom. J-COFFE setelah hujan, 23 Desember 2019

"Perjalanan Kopi (18)"

Nona, apa dirimu masih dalam pelukan orang lain? Sungguh dalam setiap langkah kaki ini terjerit kepedihan yang teramat sangat bagai siksa akhirat yang tak berkesudahan. Selalu saja aku kobarkan kobaran api cinta padamu Nona, dan setelah itu aku tersipu lesu di depan kemungkinan-kemungkinan yang terbatas. Aku terjebak di dalam perkataan yang aku seropohkan pada alam semesta "Cinta adalah sebuah anugerah yang besar, tak akan ada sebuah cinta yang menyakitkan, cinta adalah surga, bunga dan sesuatu yang bermanifestasi keindahan", apa mungkin rasa ini bukan cinta Nona? Atau bahkan aku hanya berpura-pura mencintaimu Nona? Izinkan aku mencintai dan menyayangimu semenit lebih lama dari selamanya Nona, dan kemudian aku akan tersenyum indah melihat mu berjalan dengan seseorang yang bukan aku. J-COFFE, 22 Desember 2019