Langsung ke konten utama

Berhulu pada Hujan

 

menyusuri seteiap manuskrip yang sudah usang, menerjemahkan dan memulai kembali setiap kata yang telah tertulis. aku terdiam pada kata yang telah usai, ditempa oleh air yang membuatnya kacau, dan aku kembali kepad kata pertama, mencoba segala usaha kembali kepada hari dimana tulisan itu ditulis, aku menemukannya, sedikit senyum ini terumbar, lantas aku menemukanmu dengan senyum yang sudah lama aku lupakan "kau benar dengan tidak mencintaiku Nona" 

aku terburu-buru menutup naskah itu kembali, terasa nyeri ke hulu hati paling lubuk, dan kau benar-benar sudah usang untuk aku hampiri kembali, tapi hujan dan deras membujuk diriku dan memindahkan pandangan pada gemericik air di atas tanah, lalu ilalang seakan berdzikir dengan indah, megisyaratkan akan keindahan senyummu yang pernah kau ukir bersamaku ketika hujan.

aku tak bisa melupakan tangan yang kau julurkan untuk menghadang air hujan yang ingin jatuh ke tanah, dengan pejam yang kau lakukan, aku menirukannya, aku meniru untuk merasakan bagaimana merasakan hujan dengan indah, lalu kau berlalu dengan punggung yang kurus yang membuatku tidak bisa berpaling, itu kali terakhir aku melihatmu dan berusaha untuk mengejarmu dimana kau akan berlari. aku pun ikut usai dengan kendaraan yang memacumu untuk berpindah tempat dari hulu ke hilir.

aku merasakan begaimana hujan menerpa mukamu, tanganmu, sedikut sakit tapi aku rasa hujan sangat indah untuk hanya sekedar dinikmati dengan segelas kopi dan rokok di ruangan. aku lebih suka menikmatinya di luar ruangan, seperti lalu ketika hujan benar-benar membuat kita basah, lalu aku rapikan kerudungmu yang mulai menutupi wajahmu "kau tidak apa-apa?" kau menjawab dengan senyum "aku tidak apa-apa. mari kita lanjutkan!" 

aku hanya mengkahwatirkan dirimu ketika itu, aku terlalu khawatir dengan angin dan hujan yang akan membuatmu terkulai lemas, panas di dahi, dan meriang di sekujur tubuh. nyatanya semua itu adalah keindahan yang juga disuguhkan oleh hujan.

aku sudah tidak menikmati hujan lagi, ketika kita menetapkan hari dimana kita akan menanggalkan setiap kisah dalam surat kabar yang selalu aku kunjungi. aku selalu mencarimu di dalamnya, berharap kau akan menyapaku barang sejenak, tapi itu semua hanya kesia-siaan.

siapa yang akan mengadili surat ini? aku ingin bercinta denganmu dalam puisi, kita bersatu dan menjadi sepasang kekasih dalam puisi, dalam setiap kata yang menjadikan diri kita abadi. sayangnya kau juga tak mengisyaratkan kessanggupan untuk menerima kebercintaan kita dalam puisi. 

kau dan aku adalah sepasang yang gagal untuk dituliskan dan menjadi sebuah legenda seperti halnya Layla dan Majnun, Romeo dan Juliet. kita tidak setragis mereka, tapi aku lebih suka cinta seperti ini, bagaimana cinta yang penih parodi -- aku mencintai dirimu yang kita sebut sebagai sahabat.

Yogyakarta, Joglo Kopi 20 Desember 2021 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Perjalanan Kopi (19)"

Aku tidak sempat memanifestasikan hujan tadi menjadi sebuah sajak tentang dirimu nona, aku terlalu menghayati perjumpaan kita melewati hujan, bahkan dirimu datang melewati hujan dan deru atap yang ramai. Sempat saja aku bertanya perihal keadaan dirimu, sudahkah dirimu menikmati hujan malam ini Nona? Mungkin saja disana makna hujan berubah seseorang yang bukan aku, atau bahkan hujan akan membawamu menyelami kitab kuno yang selalu kau pelajari. Beberapa waktu lalu dirimu mempertanyakan objek dalam setiap sajakku, apa dirimu berpura-pura tidak tahu Nona? Atau bahkan dirimu benar tidak tahu? Atau lebih buruk kau tidak tahu menahu objek sajakku Nona? Tersenyumlah Nona, akan aku jawab perihal objek dalam setiap sajakku ini, sajakku adalah manifestasi cinta dan rindu padamu Nona, seorang Nona yang mempunyai senyum yang meluluhlantakkan setiap kota layaknya atom. J-COFFE setelah hujan, 23 Desember 2019

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019