Langsung ke konten utama

Sya’ir Arab Kontemporer Dan Keikut Sertaannya Dalam Peperangan Di Negara Arab

Peresume : Mohammad Badrus Sholih

Jurnal yang dikarang oleh ustadz Halimi Zuhdi, Ustadz Faishol Fatawi, dan ustadz majid ingin menjelaskan tentang terjadi konflik sastra arab, dan dampaknya terhadap perang yang terjadi di dunia arab.
Perlu kita ketahui sebelum negara arab mengalami konflik yang sangat besar, negara barat terlebih dahulu terjadi konflik, kemudian baru negara arab mengalami konflik yang sangat besar, sehingga erjadilah pertengtangan terhadap sastra arab, yang diduga menjadi cikal-bakal dari terjadinya konflik yang terjadi. hal ini dibuktikan dengan adanya kritk sastra, budaya dan seksualitas.
       Padahal peperangan tersebut bukan diakiabtakan oleh peperangan partai yang ada di Suriah dan Yaman. hal ini menyulut semangat ustadz Halimi Zuhdi, Ustadz Faishol Fatawi, dan ustadz Majid, untuk mengungkap teks-teks sastra aab yang bertentangan terhadap nilai-nilai kemanusian, terutama puisi yang di transisiskan kepada dua negara yaitu Suriah dan Yaman.
Suriah dan Yaman mempunyai dua kubu, yaitu kubu pemerintahan, dan rakyat. pertanyaannya apakah ada peran sastra atau karya tulisan yang mempunyai peran terhadap terjadinya peperangan di dunia Arab? mari kita ikuti alur dari jurnal ini.
Analisis yang digunakan dalam jurnal ini yaitu teori analisis George Simmel tentang gambar atau sarana untu mengakhiri konflik, Satu pihak menang untuk menerima kekalahan dari pihak lain, penyelesaian, atau rekonsiliasi, atau bahkan ketidakmampuan untuk berdamai  yang terjadi di dunia Arab, dengan melihat puisi yang ada di dunia Arab.

Fenomena komitmen dalam sastra atau puisi bukanlah hal baru, tetapi dimanifestasikan sejak kuno dalam sastra Arab kuno, tokoh yang pertama adalah El-Ghazal, dia adalah salah satu tokoh sastrawan modern di negara Arab yang menceritakan tentang ratapan, pujian, dan sindiran yang muncul pada Era pra-Islam ke periode Abbasiyah, penyair Ghazzal mengatur warna cerita cinta mereka  dimana mereka menggambarkan suatu keindahan, sedangkan penyair-penyair ratapan mewarisi para pahlawan yang terbunuh.
Perlu kita ketahui juga bahwa Pertempuran  para penyair tentang pujian-pujian yang memuji para pemimpin mereka atau raja-raja mereka,hal itu sudah biasa mereka lakukan. Komitmen sastra berkembang dari waktu ke waktu, dan kemudian citranya bervariasi ada penyair politik, revolusioner, penyair Syiah, penyair usiran, pemburu.
Tokoh selanjutnya adalah Taufiq Ziad yang menulis kebanyakan puisinya dibalik jeruji besi, karya-karyanya banyak bernuasa pemerontakan, harapan, dan optimisme, semua itu terlahir dari sebuah luka besar, dan sebagai kritik terhadap musuh Palestina.
Tokoh selanjutnya adalah Mahmud Darwis, puisi-puisinya menceritak kepahitan antara dirinya dan afiliasi keluarganya, ia mengatakan bahwa puisi perlawanan lahir dari penyair yang sadar terhadap identitas budaya dan peradaban yang ada pada dirinya.
Salah satunya lagi yang menjadi sebab-musabab terjadinya perang adalah terjadinya diskriminasi terhadap kaum rakyat marginal, karena perihal masalah sosial, politik, literatur, perlawanan menjadi hak sepihak proyek perkotaan, dan rakyat pedesaan, atau kaum marginal tidak memiliki tempat sedikitpun dalam hal itu.
Lantas apa yang mereka lakukan untuk melawan hal tersebut? jalan mereka adalah menggunakan media sastra untuk mengkritik semua ketimpangan yang terjadi, karena sastra merupakan seni pertama, atau peradaban pertama dalam kehidupan manusia.
Kesimpulannya adalah peperangan yang terjadi salah satunya adalah disebabkan oleh karya sastra yang beruapa sya’ir atau puisi yang bergenre pemberontakan demi terciptanya suatu kesejahteraan rakyat di negara Arab, seperti yang dikatakan oleh tokoh penyair Suriah yang bernama Abu Roisyah, dia mengatakan bahwa tidak ada cinta selain cinta terhadap tanah air, hal ini membuktikan bahwa karya sastra sya’ir atau puisi berkaitan erat terhadap terjadinya peperangan yang terjadi di negara Arab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berhulu pada Hujan

  menyusuri seteiap manuskrip yang sudah usang, menerjemahkan dan memulai kembali setiap kata yang telah tertulis. aku terdiam pada kata yang telah usai, ditempa oleh air yang membuatnya kacau, dan aku kembali kepad kata pertama, mencoba segala usaha kembali kepada hari dimana tulisan itu ditulis, aku menemukannya, sedikit senyum ini terumbar, lantas aku menemukanmu dengan senyum yang sudah lama aku lupakan "kau benar dengan tidak mencintaiku Nona"  aku terburu-buru menutup naskah itu kembali, terasa nyeri ke hulu hati paling lubuk, dan kau benar-benar sudah usang untuk aku hampiri kembali, tapi hujan dan deras membujuk diriku dan memindahkan pandangan pada gemericik air di atas tanah, lalu ilalang seakan berdzikir dengan indah, megisyaratkan akan keindahan senyummu yang pernah kau ukir bersamaku ketika hujan. aku tak bisa melupakan tangan yang kau julurkan untuk menghadang air hujan yang ingin jatuh ke tanah, dengan pejam yang kau lakukan, aku menirukannya, aku meniru untuk ...

"Perjalanan Kopi (19)"

Aku tidak sempat memanifestasikan hujan tadi menjadi sebuah sajak tentang dirimu nona, aku terlalu menghayati perjumpaan kita melewati hujan, bahkan dirimu datang melewati hujan dan deru atap yang ramai. Sempat saja aku bertanya perihal keadaan dirimu, sudahkah dirimu menikmati hujan malam ini Nona? Mungkin saja disana makna hujan berubah seseorang yang bukan aku, atau bahkan hujan akan membawamu menyelami kitab kuno yang selalu kau pelajari. Beberapa waktu lalu dirimu mempertanyakan objek dalam setiap sajakku, apa dirimu berpura-pura tidak tahu Nona? Atau bahkan dirimu benar tidak tahu? Atau lebih buruk kau tidak tahu menahu objek sajakku Nona? Tersenyumlah Nona, akan aku jawab perihal objek dalam setiap sajakku ini, sajakku adalah manifestasi cinta dan rindu padamu Nona, seorang Nona yang mempunyai senyum yang meluluhlantakkan setiap kota layaknya atom. J-COFFE setelah hujan, 23 Desember 2019

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019