Langsung ke konten utama

Pendidikan Is Kebebasan Not Pengekangan


           Sudah lama sekali tidak menulis essai, mungkin ada banyak kegundahan yang ada dalam jiwa saya, tapi akhir-akhir ini ada beberapa hal yang harus saya tuliskan, mengenai perjalanan hidup yang harus dapat diintropeksikan dalam masa depan, supaya hal yang tidak diinginkan tidak akan terulang kembali, anggap saja sebagai bahan evaluasi bagi kita semua.
            Saya adalah mahasiswa semester akhir di salah satu universitas besar di kota Malang. Banyak sekali dilema yang saya dan teman-teman hadapi, dari tugas-tugas yang mulai menghantui, kelulusan dari semua mata kuliah yang akan menjadi penentu untuk bisa ikut skripsi, atau bahkan pihak dosen yang mulai memberi gertakan dengan pemberian nilai yang bisa dikatakan amat sangat tidak pantas diberikan mereka dengan apa yang telah kita lakukan.
            Saya mendialogkan banyak sekali permasalahan pendidikan dengan orang-orang. Ada beberapa pertanyaan yang mungkin saya paparkan ditulisan kali ini, apa arti dari sebuah pendidikan dan andilnya dalam  peradaban sebuah bangsa? bagaimanakah seharusnya pendidikaan itu? Bagaimana pendapat kita terhadap pendidikan yang ada di Indonesia, baik itu sekolah maupun perguruan tinggi? Mari kita dialogkan satu persatu problem yang selalu membelenggu dalam fikiran kita.
Pendidikan dan segala virus yang menjangkit
            Pendidikan merupakan suatu proses terbentuknya suatu peradaban di suatu bangsa dan negara, bisa dikatakan negara akan besar dan mempunyai peradaban besar jikalau pendidikannya terjamin, contohnya saja yunani kuno yang mempunyai peradaban yang sangat besar dengan tumbuhnya filsafat pertama kali, atau jazirah Arab berdirinya salah satu kampus tertua di dunia yaitu Al-Azhar Cairo Mesir. Banyak sekali slogan atau program kerja pemerintahan untuk pendidikan, dari mulai sekolah gratis bagi orang yang tidak mampu, atau bahkan ditambahnya anggaran dana untuk dialokasikan kedalam pendidikan, tapi masih tetap saja, ada ketimpangan yang sangat nampak sekali, salah satunya adalah biaya kuliah yang sangat mahal hari ini (ini di Indonesia ya). Memang benar pendidikan wajib hanya sampai sembilan tahun, tapi setelah itu jenjang kuliah juga sangat penting, bukan karena sebagai ladang untuk mencari kerja, tapi lebih dari itu dengan kuliah akan terbuka pintu yang lebar untuk menuju peradaban yang sangat tinggi dan besar, tanpa mengucilkan pendidikan yang lain.
            Di tambah lagi dengan sistem pembelajaran yang lebih menurun, bisa dikatakan ilmu yang di dapat dari luar, baik itu berupa diskusi di warung kopi atau kajian ilmiah di saurau-surau lebih signifikan dan mendapatkan hasil daripada di jenjang perguruan tinggi, mengapa saya mengatakan demikian? Banyak sekali pengajar perguruan tinggi yang tidak mempunyai integritas dalam dunia pembelajaran, bukan malah memberi pembelajaran yang baik di perguruan tinggi, malah mereka akan berbuat semena-mena pada anak didiknya yang sangat ingin belajar di perguruan tinggi, contohnya saja ada banyak dosen yang hanya memberikan tugas persentasi, tanpa adanya follow up terhadap apa yang telah disampaikan mahasiswa di depan kelas, dan bahkan setelah persentasi usai mereka hanya mengabsensi siapa saja yang hadir dalam forum itu, ini adalah problem yang sangat besar, dan kita harus memerangi semua itu.
            Dalam buku yang berjudul pendidikan posmodernisme , yang merupakan kumpulan karangan mahasiwa yang di bukukan, salah satunya karangan Eko Sumadi iyang meneliti tentang pemikiran pendidikan Ivan Illich, problem-problem yang menyelimuti pendidikan salah satunya adalah rendahnya kualitas guru di Indonesia yang amat sangat memprihatinka. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai umtuk menjalankan tugasnya, hal ini sudah tertulis di pasal UU No. 20 tahun 2003, yaitu merencanakan pembelajaran-pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian, dan melakukan pengabdian masyarakat. Bukan hanya itu saja, bisa di katakan ada pengajar yang bisa dikatakan tidak layak untuk mengajar.
            Paulo Freire, dia adalah salah satu tokoh filosof dalam bidang pendidikan memberi kritik pedas terhadap sekolah-sekolah yang ada hari ini, dia berpendapat bahwa sekolah-sekolah, termasuk juga perguruan tinggi, ialah yang memberi pendidikan praktek pembebasan, yang humanis (memanusiakan manusia), yang menciptakan kesadaran dari sebuah ketertindasan, dan  yang dialogis, tapi nyatanya semua itu hanya menjadi isapan jempol, sekolah-sekolah hari ini tergelincir dari esensinya, ia mengatur segala hal, melatih orang untuk bekerja, tak heran jikalau perguruan tinggi menjadi rujukan untuk mendapat ijazah dan mendapat pekerjaan yang mapan, dan penyadaran status apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus), jikalau seperti itu apa gunanya menempuh pendidikan di perguruan tinggi jikalau hanya untuk melangengkan status quo tersebut?
            Ditambah lagi dengan kesewenang-wenangan pihak guru dan dosen dalam memberi penilaian, kebanyakan hal ini terjadi di bangku perguruan tinggi, dibuktikan dengan adanya peraturan bersama untuk kita patuhi, tapi nyatanya peraturan itu hanya berlaku untuk mahasiswa, dari pelanggaran merokok di dalam ruangan kampus, memakai sandal, dan keterlambatan dalam forum. saya tidak memungkiri mahasiswa juga melakukan hal tersebut, perbedaannya mahasiswa etika ditegur, mereka menyadari kesalahannya dan mungkin tidak aan mengulagi kesalahan yang serupa, tapi guru atau lebih tepatnya dosen menganggap hal itu benar, tidak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan.
            Setelah mereka mendapat kritikan dari para muridnya mereka akan tutup telinga, tersenyum dengan apa yang mereka lakukan, dampaknya siapapun yang mengkritik dosen, mereka akan mendapat nilai yang tak seharusnya mereka dapat, apalagi ini terjadi pada mahasiswa semester akhir, bukankah itu menunda terhadap kelulusan mahasiswa? Apalagi syarat untuk mengambil skripsi harus menyelesaikan seluruh mata kuliah yang ada? Jika yang dosen tidak luluskan adalah murid atau mahasiswa kurang mampu dan dia kebingungan untuk mendapatkan uang untuk membayar UKT yang amat sangat mahal siapa yang akan bertanggung jawab? Bukankah itu perilaku yang tidak sepantasnya? Mari kita saling mempelajari meta kehidupan dosen dan mahasiswa, agar tidak terjadi miscomunikasi.
            Bukan hanya sekedar sekolah-sekolah atau perguruan tinggi, guru dan dosen juga memiliki peran yang sangat amat penting di tatanan pembelajaran. Guru atau dosen harus menjadi tokoh suri tauladan bagi murid-muridnya, contohnya saja di pondok pesantren kita akan melihat banyak para pengajar yang berpakaian sopan dan berperilaku indah kepada seluruh elemen yang ada di pondok pesantren, kenapa? Karena mereka mempunyai beban moral yang ada di pundaknya, ya benar itu sangatlah sulit, dan berat tapi itu adalah kewajiban bagi seorang pengajar untuk mengajarkan kepada murid-muridnya. Guru dan dosen juga harus dialogis dalam menyampaikan sesuatu, jikalau tidak pendidikan yang ada akan bersifat statis dan mengalami degrdasi.
            Perlu kita ingat pendidikan bukan hanya sekedar buku, persentasi, dan membaca, , lebih dari itu sopan santun, dan perilaku moral adalah sebuah pendidikan yang perlu di ajarkan di seluruh jenjang pendidikan, dan segala tempat. Sangat mengecewakan sekali jikalau perguruan tinggi, yang merupakan jenjang tertinggi dalam semua jenjang pendidikan tidak mengajarkan moral di dalamnya. Kita banyak meremehkan pondok pesantren yang lebih mengutamakan moral dari pada mata pelajaran yang ada, karena moral merupakan pondasi pertama untuk membentuk suatu peradaban di dunia ini.
            Saya merasa kecewa dengan keadaan perguruan tinggi yang ada saat ini, mereka mempunyai banyak slogan di dalamnya, seperti world class university, mencetak lulusan terbaik, atau apalah itu saya tak terlalu mengahafal semua itu. Sangat perlu adanya kritikan sebagai bahan evaluasi untuk terciptanya pendidikan yang berintegritas di seluruh perguruan tinggi yang ada, tak perlu takut untuk menyuarakan kekecewaan, dan kritikan demi terciptanya pendidikan dan pembelajaran yang bermutu, terciptanya tri dharma perguruan tinggi, dan visi-misi perguruan tinggi yang dibuat susah payah oleh pendirinya. Slogan yang di pajang di baliho yang besar sangat memalukan bukan, jikalau ada seorang pelajar yang baru masuk karena terhasut oleh slogan perguruan tinggi yang sangat meyakinkan, tapi setelah tenggelam di dalamnya hal itu tidak terbukti? Dosa bukan, membohongi orang banyak? Bukankah kita semua butuh terhadap semua elemen yang ada di sekolah dan perguruan tinggi untuk mengevaluasi terhadap apa yang telah terjadi, bukan malah bersikap dingin dan eklusif seakan mahasiswa tidak pantas ikut campur di dalamnya.
            Menurut Paulo Freire pendidikan memiliki jenjang, 1) pengetahuan, 2) kesadaran, 3) penerapan, 4) evaluasi. Banyak sekali dosen yang melupakan 2 point penting di dalam jenjang pendidikan tersebut, yaitu kesadaran dan evaluasi. Antara pegetahuan dan kesadaran memiliki jarak, sehingga terciptalah kesombongan, dan tidak menerima terhadap adanya evaluasi (kritikan) yang di lontarkan oleh murid-murid, bukankah jika tidak ada murid, maka tidak ada guru?  jika tidak ada mahasiswa, maka tidak ada dosen? Bukankah antara dua elemen tersebut harus saling melengkapi bukan malah saling mencacimaki dan menindas? Sampai kapan perguruan tinggi akan melanggengkan penindasan di dalamnya? Bukankah hakikat pendidikan agar terciptanya kebebasan?
            Dalam tulisan ini tidak bisa saya katakan bahwa tulisan ini secara murni dengan pandangan objektiv, pasti ada pandangan subjektiv, tapi saya berusaha untuk melakukan kritikan kepada para pengajar dan pelajar, agar dapat menjadi bahan evaluasi bagi elemen penting dalam dunia pendidikan.
            Ayo, kita sebagai penerus bangsa, (pengajar dan pelajar) yang mempunyai cita-cita tinggi, tidak usah takut untuk mengkritik pembelajaran yang ada di sekitar kita, karena semua itu adalah bentuk kasih sayang yang ada dalam diri kita  untuk menuju suatu pembelajaran yang berintegritas tinggi, menuju hakikat pendidikan yang kita idam-idamkan, dan mewujudkan cita-cita kita semua dan perguruan tinggi. Ada dua quotes iyang ingin saya sampaikan di akhir tulisan ini “guru yang sukses adalah guru yang mampu membangkitkan kemampuan potensi murid dengan maksimal, bukan menjadi apa yang guru mau” dan “murid yang baik, adalah murid selalu menyuarakan keadilan, kritis dalam segala hal, dan selalu berdialog dengan apa yang disampaikan oleh guru”.
“Mahasiswa bukan balita yang harus selalu menurut terhadap apa yang telah diputuskan teknokrat, mahasiswa adalah agen sosial pendidikan, agen sosial masyarakat, mahasiswa wajib menjadi parsipatoris aktif dalam pembentukan keputusan dan klaim kesahihan universal”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Jejak Perjalanan (1)"

Sudah sampai mana kita telah berjalan? Sudahkah kita beristirahat sejenak, meneguk air lalu menikmati alam semesta yang indah ini Nona? Perjalanan yang paling indah adalah perjalanan menuju sebuah hakikat, mengapa tidak jikalau hakikat adalah dzat yang selalu ada dalam kehidupan kita, sedangkan dirimu Nona selalu saja menghilang dalam kubungan sajak-sajak. Aku adalah pejalan waktu yang selalu lelah pada setiap perjalanan namun aku tak akan pernah berhenti untuk berjalan, karena tujuanku adalah diri-Nya yang tak berujung. Pada setiap pagi, selepas fajar merah dirimu selalu redup bersama mataku Nona, tapi mengapa setiap mataku terbangun dirimu selalu tersenyum dihadapanku Nona. Pada pemilik dzat yang maha agung aku titipkan segala takdirku, begitupun juga dirimu Nona. POM Bensin Suramadu, 15 Desember 2019
Perempuan yang bersamaku hari ini 1/ Lama sudah tak kusuai debur gugup hati ini Beberapa saat ku liat dari balik kaca senyum indah yang bersuai di belantara hutan kota Katakan bahwa ini adalah kelopak yang akan tumbuh setelah dirimu bangkit dari rapuh mu 2/ Tak akan ada satupun serangga yang akan menumbangkan dan mengisap madumu Tak akan ada satupun angin maupun bencana lain yang akan menguburkan mu, kecuali pupuk yang akan aku beri setiap pagi 3/ Bersemilah kembali di tanah ku ini, akan ku beri air dan pupuk setiap hari, kan ku tatap dirimu setiap saat, akan ku selimuti dirimu kala angin mulai melanda, ku harap tuhan tidak berkata lain pada ketentuan yang aku impikan 4/ Berjanjilah tuhan akan menciptakan nya 20 april 

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019