UKT
(Uang Kuliah iTu mahal)
(Uang Kuliah iTu mahal)
“sejak kecil alfan punya cita-cita
ingin membangun bangsa indonesia yang seluas eropa tapi itu tidak mudah kata
alfan karena kuliah tak lagi murah akhirnya mimpinya alfan sangat sangat
sederhana berguna bagi rt tercinta bisa bantu potong hewan qurban atau bisa
menjadi satpam alfan merubah cita-citanya tak mau jadi dokter gigi oh kuliah
sppnya sangat tinggi alfan bolos kuliah, alfan bolos kuliah alfan bolos kuliah,
alfan bolos kuliah.”
( Iksan Skuter : KULIAH)
( Iksan Skuter : KULIAH)
Siapa yang tidak kenal Iksan Skuter?
Seorang musisi solo yang selalu menceritakan kegundahan hatinya melihat
fenomena Indonesia hari ini dengan lagu-lagunya yang menurut saya cukup membuat
hati ini mulai mendesak untuk bangkit mencari jalan keluar dari semua
penindasan ini. Lagu kuliah bukan semata-mata hanya mencari pamor maupun ingin
naik daun di mata birokrasi maupun di mata mahasiswa, lagu kuliah ini di
ciptakan karena kegundahan Iksan Skuter melihat bangku kuliah yang sangat mahal
dan mencekik sebagian pelajar dari kalangan keluarga yang tidak mampu, padahl
suatu pendidikan merupakan kewajiban bagi seluruh bangsa Indonesia bahkan
seluaruh bangsa dunia, tapi mengapa bangku kuliah menjadi sangat mahal? Bahkan
bangku kuliah di jadikan bahan dagangan bagi orang yang berkuasa disana. UKT
(uang kuliah tungal) yang sangat menggila, di tambah biaya uang gedung yang
melangit bahkan di salah satu PTKIN menerapkan adanya pondok pesantren di
dalamnya dengan memungut biaya yang tidak sedikit. Betapa mirisnya bangku
kuliah sekarang?
Setelah menyelesaikan pendidikan
selama 9 tahun lamanya baik dari tingakan SD, SMP, SMA yang di wajibkan
pemerintah kita akan memimpikan untuk duduk di bangku kuliah, betapa indahnya menempuh
pendidikan di perkuliahan dengan menggunakan pakaina dengan pakaian apa saja,
dengan gaya rambut yang sesuai selera kita dengan jam yang cenderung lebih
minim dari pada pendididikan 9 tahun tadi, bahkan orang tuapun menganjurkan
kita untuk meneruskan jenjang pendidikan ke perkuliahan karena dengan kuliah
cita-cita kita akan terbantu, tapi setelah mengetahui biaya pendaftaran dan UKT
setelahnya bahkan di tambah uang gedung, kita akan tersentak dan menekan dada,
apalagi orang tua kita yang akan menutupi kekurangannya demi seorang anaknya
yang sangat ia cintai.
Di tambah lagi dengan pelajaran yang kita dapatkan
di dalamnya dengan tenaga pengajar yang abal-abal, mungkin kita hanya tertarik
dengan title yang kita dapatkan setalah melalui jenjang 4 tahun dalam S1,
padahal hakikat dari pendidikan dalam kita taklim muat’alim adalah untuk
menghilangkan kebodohan. Saya sempat bertanya mengapa hakikat dari pendidikan
(belajar) untuk menghilabgkan kebodohan, alhasil saya sempat berfikir jikalau
kita bodoh kita akan selalu dalam kegelapan, kehinaan, penjajahan dan masih
banyak lagi. Indonesia sebelum merdeka, ia di jajah habis-habisan oleh 6 penjajah
Portugis (1509-1595 M), Spanyol (1521-1692
Belanda (1602-1942 M) Perancis (1806-1811 M)
Inggris (1811-1816 M) Jepang (1942-1945 M), kita tidak boleh
menikmati pendidikan kecuali para bangsawan dan orang yang kaya raya. Jikalau
seperti ini bukankah sama saja kita masih belom merdeka? Bukankah kita masih
terjajah? Bahkan di jajah oleh bangsa sendiri? Dengan mahalnya uang kuliah
rakyat miskin pun yang mempunyai cita-cita setinggi langit, yang mempunyai niat
yang tulus harus menggigit tali melihat uang kuliah yang meroket tanpa ampun.
Di salah satu PTKIN mahasiswa meneriakkan suara mereka tentang uang kuliah
yang mencekik, tapi pihak birokrat pun mempunyai cara lain untuk membungkam
suara mereka dengan menjegal akademik mereka, sungguh miris pendidikan
Indonesia hari ini. Banyak sekali cara untuk membungkan mulut-mulut mahasiswa yang ingin meriakkan keadilan. Mungkin
tuhan memberikan cobaan ini karena tuhan sangat cinta kepada kita, amien.
Saya akan menceritakan teman saya
yang harus pupus kuliah di karenakan uang kuliah yang sangat mahal. Sebut saja
mawar, dia seorang mahasiswa yang tak neko-neko, orang sederhana yang selalu
belajar dimanapun ia berada, nilainya pun di atas rata-rata, dia juga tinggal
di pondok pesantren sekitar kampus, tapi na’as orang tuanya pun mengeluh dan
memutuskan mengabarinya bahwa uangnya tak cukup untuk membiayainya kuliah, dia
pun hrus pupus di pertengahan semester. apa yang bisa saya bantu? Membantu
biaya kuliahnya? Tak mungkin sayapun mendapat beasiswa dari orang tua, tapi
saya tak putus asa mencurhatkan hal tersebut kepada salah satu dosen yang cukup
akrab, nyatanya tak ada jalan keluar untuk satu perkara tersebut, selamat
tinggal teman, pendidikan bisa kamu dapat bukan hanya di bangku kuliah,
dimanapun kau berada kau bisa mengambil pelajaran disana.
Pendidikan hari ini adalah
pendidikan untuk berdagang, memahalkan biaya kuliah dengan pelajaran yang
rendah. Pendidikan hari ini identik dengan kata mahal, tidak relevan, tidak
penting, padahal semua itu adalah perkataan yang salah, tapi mengapa mereka
mengatakan seperti itu?.
Jikalau kebanyakan orang
mengatakan bahwa kuliah itu tidak penting itubukanlah perkataan yang
sesuangguhnya, perkataan itu terpapar karena mereka tak bisa menikmati
pendidikan kuliah yang sangat mahal, mereka mersakan kekecewaan yang sangat
mendalam, bersykurlah bagi kita yan bisa duduk dengan santai bangku kuliah
tanpa harus berfik9r darimana uang yang mereka dapatkan, padahal orang tua kita
akan meringkih menahan lapar demi anaknya di tanah rantau yang sedang
berkuliah.
Apa yang bisa kita lakukan dengan
biaya kuliah yang sangat mahal? Tidak kuliah bukan berarti kita berhenti untuk
belajar. Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan untuk belajar, melihat kehidupan
kemudian kita merubah pola pikir dan kelakukan kita itu belajar, belajar makna
hakikat kehidupan itu lebih baik dari pada kita hanya sekedar belajar tapi taka
da perubahan dalam kehidupan kita. Tak ada yang bisa mengahalangi kita untuk
belajar, kecuali kuliah dengan biaya yang sangat mahal. Nelson Mandale
mengatakan “pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia”
lantas, mengapa pendidikan ini sangatlah mahal?.
Malang, 05 September 2018
Komentar
Posting Komentar