”Mari duduk,
Mari Ngopi, Mari Ngobrol ben gak Salah Faham”
Perkenalkan nama saya Muhammad, bukan nabi Muhammad utusan Allah lo
ya, tapi saya juga termasuk utusan Allah yang juga Kholifah yang akan memimpin
dunia ini. Umur saya 21 tahun, hidup saya penh dengan lika-liku internal maupun
eksternal. Saya suka sekali membaca, menulis, dan menerjemahkan teks arab ke
dalam bahasa Indosesia, meskipun itu semua adalah tuntutan pekerjaan.
Sekarang saya kuliah di Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim Malang, kampus yang sangat senior pondokku bangga-banggakan, meskipun
aku menolak untuk memepercayainya dulu, tapi apa salahnya aku yakini
perkataannya? Toh, dia yang lebih tahu keadaan kampus waktu itu, sehingga aku
berupaya untuk yakin dan percaya bahwa aku layak, bahkan harus masuk UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang, selain itu aku menafikan UIN yang lain, meskipun
sebelum itu saya lulus di UINSA, tapi sudahlah jiwa dan ragaku ada di UIN
Malang.
Akhirnya seleksi mandiri selesai, teman-teman harus kecewa ketika
lembar kertas kelulusan tak tercantum nama mereka, bahkan ada beberapa yang
harus kembali lagi ke dunia pondok, yang menurutku dunia yang penuh dengan
kesengsaraan.
Semester 1-2 para mahasiswa baru harus masuk Ma’had Al’aly, dengan
biaya yang amat sangat mahal yaitu 5 juta rupiah apalagi tahun ajaran 2018 ini
bertambah 7,5 juta, jika itu semua di liat dari uang SPP pondokku yang hanya
275 ribu tiap tahunnya, di tambah lagi UKT (uang kuliah tunggal) saya 2.385.000
cukup murah daripada adek kelas saya sekarang yang mencapai 5 juta lebih, tapi
semua bayaran itu tidak sepadan dengan apa yang mahasiswa dapatkan – kelas yang
kumuh dengan proyektor yang sudah tidak layak pakai, kursi kayu yang selalu
menimbulkan bunyi berisik, tak ada AC di setiap kelas sehingga ketika panas
mulai melanda, kelas akan di penuhi dengan baru keringat yang sangat menggoda,
fasilitas ma’had yang akan membuat para mahasiswa akan geleng-geleng dan
mengumat kesal terhadap kampus, wifi yang teramat-amat lemot apalagi di zaman
saya mungkin, air kamar mandi ma’had yang selalu nyendat dan berwarna hitam
layaknya lumpur, lahan parker yang sangat sempit, dosen yang di kelas hanya
diam, megabsen, bahkan salah memberikan materi dan masih bangak lainnya - .
Apalagi bukan cuma masalah biaya masuk UIN mahal, perihal
perseteruan antara ma’had, kampus, dan organisasi ektra kampus yang bernaung di
bawah UIN Malang, saya tak mau menyalahkan salah satu saja, tapi saya coba
mengkritisi secara objektif, meskipun dalam hal keobjektifitasan merupan suatu
hal yang sangat sulit sekali. Saya ingin mengatakan dari ketiga elemen di atas
saya sudah pernah atau masih ada di dalamnya, baik itu dari ma’had, kampus
secara saya masih berstatus mahasiswa, dan juga organisasi ektra kampus, dimana
saya juga pernag menjabat kepengurusan di dalamnya.
Sampai hari ini saya tak bisa menerima konsep ma’had (pondok
pesantren) yang ada di UIN Malang (ini cukup dengan diri saya sendiri), kenapa?
Karena ma’had UIN Malang tak cukup untuk memberikan esensi dari sebuah pondok
pesantren seperti contoh pembelajaran yang hanya mendahulukan eksistensi, para
ustadz dan ustadzah bayaran dengan SK, jikalau masa jabatan telah selesai
mereka akan menjadi orang biasa, apalagi gelar yang dimandatkan kepada
penduduknya “mahasantri”, ketika kata itu terucap saya akan terjungkal-jungkal
menahan tawa, gimana tidak mau ketawa mahasiswa yang tak pernah mondok
sebelumnya, dan tak pernah belajar ilmu agama sebelumnya akan langsung auto
mendapat gelar mahasantri, jadi untuk siapapun yang ingin mendapat gelar santri
plus mahanya, langsung saja kuliah di UIN Malang, di jamin langsung dapt gelar
mahasantri.
Kita tak usah lama-lama bergelut dengan ma’had, tidak baik. Selanjutnya
kita pindah ke kampus yang bagan-bagannya terdiri dari rector, dekan, dosen,
dan civitas yang ada di kampus. Saya akan mencari contoh yang konkrit, yaitu
transparansi uang kuliah, dan ma’had yang meroket, tapi fasilitas yang tak
berubah dari tahun-ketahun, ketika mahasiswa ingin tahu kemana saja uang
mereka, pihak kampus akan bernyanyi indah dengan lemparan senyum yang anyir,
sebenarnya kita tak menanyakan betap indahnya senyum kalian, kita hanya ingin
tahu kemana saja uang yang kami berikan kepada kampus. Adalah peristiwa seperti
itu dimana orang-orang yang menuntut kebenaran dan keadilan harus bungkam
dengan pencabutan beasiswa yang mereka dapat, adalagi iming-iming beasiswa yang
akan mereka dapat asal mereka diam tutup mulut. Jiakalau mahasiswa mau menerima
tawaran ini, betapa bangsatnya mahasiswa itu, tapi hush tidak boleh begitu, mari
kita tanamkan husnudzon dalam hati.
Apalagi ada insiden yang sangat memalukan seorang wakil rector dalam
bukunya terdapat isi yang plagiat, aduh betapa malunya saya tuhan sebagai
mahasiswa di UIN Malang, jadi jangan salahkan mahasiswa plagiat, toh plagiat dan
tidak terletak dengan kita mencantumkan karya seseorang atau tidak, tapi lagi-lagi
ini di atur oleh kelegalan hukum.
Saya akan bercerita kembali, perihal tulisan saya bertema degradasi
moral dosen mendapat pesan dari salah satu dosen, beliau mengatakan “jangan
sampai satu kesalahan yang salah satu dosen lakukan akan menutup segala cinta
kepadanya, dan jangan sampai mengeneralkan suatu masalah, sehingga semua dosen
masuk kedalamnya” saya cukup mengerti dengan maksud beliau yang sampaikan sore
kemaren, saya akan tersenyum mengingat sore itu, mungkin saya juga akan
menjelaskan maksud dari tulisan saya yang bercerita tentang degradasi moral
dosen. Tulisan ini saya tuliskan dalam bentuk esai sebagi bentuk curhatan saya,
apalagi tulisan ini di cetak dan di sebar luaskan di kalangan civitas akademika
kampus. Tulisan ini saya peruntukkan bagi seluruh kalangan, agar semua orang
tahu tak selama dosen itu seperti apa yang kita fikirkan, dan tulisan ini
sebagai bahan refleksi para dosen kedepannya. Jika didalam tulisan saya tidak
mencantumkan nama dosen tersebut itu bukan berarti mengeneralkan bahwa sanya
semua dosen itu tidak baik, bukan begitu, begini jika saya mencamtumkan nama
saya bisa dituntut atas dasar pencemaran nama baik, dan satu lagi saya tak
menutupi cinta kepada dosen, sehingga yang ada dalam diri saya hanya kebencian
kepada dosen, tidak saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya ingin mensetarakan
cinta saya, cinta yang amat sangat akan menimbulkan keparadokan, saya tak mau
begitu, saya tak mau dari saking cintanya saya kepada dosen, dosen itu akan
menindas saya, dan saya hanya diam, dan sebaliknya dengan benci, karena apapun
yang mereka lakukan dia tetap guru saya. Saya ingin menyampaikan “dari saking
cintanya saya kepada anda sekalian, saya akan selalu mengkritik kalian”.
Lanjut kepada topic selanjutnya yaitu organisasi ekstra kampus,
saya tak mau menyebutkan, tapi ini hanya sekedar analisis dan kritikan ringan
demi terbentuknya kemaslahatan dan tidak adanya kesalah fahaman.
Organisasi ektra hari tergelincir dari porosnya, yang saya lihat
sejarah dari berdirinya mereka semua demi kemerdekaan bangsa Indonesia, demi
melawan ketidak adilan, dan memberantas segala ketimpangan di bumi ini, tapi
nyatanya? Mereka kehilangan esensi mereka sendiri, mereka menindas mahasiswa
yang polos dengan dalih kemaslahatan bersama, merelakan segala cara demi
anggota dan duit yang melimpah. Banyak sekali ketidak adilan yang terjadi di
dalam dunia akademika kampus, semisal kebijakan yang tak sesuai, dan masih
banyak lagi, tapi jikalau hak mereka di usik mereka akan bertindak suapay jalan
mereka tidak terjal, jika ketimpangan dan ketidak adilan terjadi di mahasiswa yang
non-organisasi ataupun bukan kelompok mereka? Mereka diam seakan tidak
tahu-menahu perihal apa yang terjadi.
Dalam buku kondom gergaji karangan ustadz Ach. Dhofir Zuhri
pengasuh pondok pesantren Luhurian dan rector Sekolah Tinggi Filsafat Al-Faraby
menjelaskan dibukunya tentang konsep Triple Helix dimana sinergi kekuatan
antara ilmuan, pengusaha, dan pemerintah. Coba kita turunkan kepada 3 elemen
yang ada di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim ini, antara 3 elemen
ini mereka saling berseteru, tidak menemukan benang merah didalamnya, bagaimana
kampus ini mau maju? Mereka saling salah menyalahkan, saling menjegal, bahkan
saling mengolok-ngolok satu sama lain, padahal mereka ada didalam satu atap
yaitu UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Para organisatoris menyalahakan pihak ma’had yang mepersulit
perizinan, pihak ma’had menyalahkan mahasiswa yang selalu mengganggu acara ma’had,
pihak kampus menyalahkan organisatoris karena ingin membongkar kedok mereka,
pihak organisatoris menyalahkan pihak kampus yang semena-mena melakukan
kebijakan yang merugikan, pihak ma’had menyalahkan pihak kampus yang susah
menurunkan dana demi acara yang mereka rencanakan, pihak kampus menyalahkan ma’had
karena mereka mempersulit mahasiswa yang tinggal disana untuk izin mengikuti
acara kampus. Apakah itu yang disebut dengan sinergitas? Apakah itu yang
dinamakan keluarga?.
Sebagai keluarga besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, baik itu
pihak ma’had, kampus, dan organisasi marilah kita saling melengkapi, saling
bersinergis demi suatu misi yang kita wujudkan, jikalau hal ini masih
berlanjut, apakah cita-cita yang kita idamkan akan terwujud? Mari kita
retropeksi diri kita masing-masing, sebuah kritikan dan solusi itu sangatlah
penting untuk kita lakukan, jika tak menemukan benang merah dari masalah yang
kita semua alami, duduklah! Sulutlah sebatang rokok, dan tak lupa seruputlah
segalas kopi yang kalian sukai, kemudian ngobrollah dari hati kehati,
terimakasih.
Malang 16 September 2018
Komentar
Posting Komentar