Langsung ke konten utama

Maling Teriak Maling

Maling Teriak Maling
Sebelum memulai tulisan ini perahkah kita ingat lagu “maling” yang di populerkan oleh salah satu penyanyi lawas Nita Thalia pada zaman 2000-an, ia lahir di Bandung jawa barat. Lagu Maling ini menceritakan banyak sekali pesan moral di dalamnya, seperti lirik satu ini “Maling kau maling jangan teriak maling, bila kau maling jangan berisik” genre lagu ini dangdut rock, bisa di bayangkan bukan bagaimana perpaduan antara lagu dangdut dan rock? Hal ini tak akan kita temukan di luar Indonesia. Agar kita tahu akan lagu ini, cobalah sebentar bertanya kepada mbak google, dan sengarkan secara seksama.
Zaman modern ini semua yang berkaitan dengan lagu zaman dulu terbukti perlahan-lahan, bukan yang terjadi dengan lagu jaman kini yang cenderung bergenre romantisme dan kealayan yang membuat saya harus memuntahkan kata-kata kesal. Contohnya saja banyak sekali, semisal zaman kepresidenan SBY, dimana partai PDIP menolak secara penuh terhadap kenaikan BBM yang akan di naikkan oleh pemerintahan SBY tanpa melihat secara pragmatis ada apa di balik perekonomian Indonesia, tapi hari ini partai PDIP diam tanpa kata, mereka seakan menjilat ludah mereka sendiri dengan kenaikan BBM pada pemerintahan anak didiknya sendiri.
Maling teriak maling banyak sekali di lakukan oleh banyak orang, banyak kalangan, baik dari ekonomi tinggi maupun rendah, semua seakan sama hari ini. Apa yang harus kita lakukan dengan keadaan genting seperti ini? Apakah dengan maling teriak maling kita akan menemukan sejatinya kebenaran? Pernahkah kita bertanya apakah sebenarnya yang kita lakukan itu benar? Apa salah? Mari kita selidiki lagi lebih dalam dengan retropeksi diri kita, buat apa kita di ciptakan dan masih banyak lagi.
Dalam filsafat komunikasi kita akan menemukan istilah post truth, secara makna gampangnya adalah kebohongan. di zaman postmodern ini banyak sekali kebohongan yang ada di sekitar kita, dimana suatu fakta kurang dapat berperan untuk menggerakkan kepercayaan umum daripada sesuatu yang berhubungan dengan emosi dan kebanggan tertentu baik itu seperti agama, kepercayaan kebangsaan, ras, etnis, dan kepentingan politik. Seseorang yang melancarkan post truth atau kebohongan akan terus menyuarakan suatu argument kebohongan meskipun mereka terus saja di kritik, telah disuarakan  letak kesalahannya, dan dibabat habis-habisan oleh para pakar, tapi tetap saja mereka melawan, berkelit dengan perkataan dan kelakuan mereka sendiri, dan public terkecoh dengan penampilan tersebut.
Saya sempat mendengarkan ceramah pengajian ngaji filsafat bapak Fahrudin Faiz dalam suatu sesinya mengatakan “ajaklah diskusi orang yang bertanya akan sesuatu hal, bukan malah mengajak sesorang yang sudah mencapai final dengan pertanyaannya, malah gegeran itu nanti” contohnya saja yang sangat hot di 2019 ini, yaitu gerakan #2019gantipresiden, sah-sah saja kita menyuarakan 2019 ganti presiden taka da masalah, karena hal itu tidak melanggar terhadap konstitusi, bahkan menyuarakan sesuatu sudah di atur juga bukan di HAM. Staf ahli presiden berpendapat bahwa gerakan tersebut adalag gerakan makar, tapi di bantah lagi oleh bapak Mahfudz seoang pakar ilmu hukum dan mantan ketua MK, dan sekarang menjabat sebagai staf ahli ideology pancasila bahwa makar identic dengan menjatuhkan presiden di selain jalan yang resmi, tapi nyatanya gerakan #2019gantpresiden bukan makar, mereka adalah para aktivis yang sekedar ingin menyuarakan suara mereka untuk 2019 ganti presiden, jika di rasa tidak suka, tidak usah di tangggapi, gitu aja kok repot.
Istilah maling teriak maling bukan hanya populer  di ranah politik ataupun  sosial masyarakat saja akan tetapi isu ini juga merambat di rana pendidikan, apalagi dalam dunia kampus kita akan banyak menemukan mahasiswa yang meneriakkan maling kepada seseorang yang melakukan kesalahan tanpa meliahat jadi diri mereka, nasib-nasib jadi penguasa ataupun birokrasi harus selalu siap siaga menghadapi ini semua. Mahasiswa meneriaki dosen dengan maling, dan sebaliknya birokasi meneriaki maling kepada mahasiswa, lantas siapa yang malaikat? Siapa yang benar? Sudahlah.
Kehidupan milenial ini berada di situasi simulakra – dimana situasi antara benar dan salah sangat sulit untuk dibedakan. Realitas yang ada adalah realitas semu dan hasil dari simulasi – dimana kita semua dipaksa untuk pseudoshopy –  kita dipaksa percaya terhadap ilusi yang mereka buat dengan cara membentuk atau membuat suatu relaitas sosial, politik, dan budaya yang sekilas tampak nyata – sehingga kita berada di ranah yang sangat sulit yaitu situasi yang dinamakan dengan kondisi dimana fakta kurang berperan untuk menggerakkan kepercayaan umum daripada sesuatu yang berhubungan dengan emosi dan kebanggan tertentu seperti agama, kepercayaan, kebangsaan, ras, etnik, dan kepentingan politik ( post truth ).
Tadi pagi aliansi organisasi mahasiswa kota Malang turun jalan untuk menyuarakan keadilan di depan gedung DPRD kota Malang dengan bermacam tuntutan di dalamnya. Demontrasi ini di sebabkan para anggota dewan melakukan korupsi secara berjama’ah (kayak sholat aja neh pake acara jama’ah) dan hal ini menjadi sebuah rekor yang pernah ada di karenakan sebanyak 41 satu anggota dewan di tetapkan menjadi terdakwa kasus korupsi dari 45 anggota dewan  (syukurlah masih ada yang tersisa bukan hahahahaha). Mungkin mereka kekurangan uang belanja karena semua BBM dan bahan pangan mulai naik meroket. Ada salah satu partai yang mengatakan bahwa sanya kasus korupsi massal anggota DPRD Malang di luar kendali parpol (mangkanya kalo punya anak di didik dong, jangan biarin jadi maling loh? Hahahahah).
Mungkin kejadian adalah cerminan dari sifat dasar manusia yang ingin berlomba-lomba (baik kebaikan maupun keburukan mungkin ya) tapi sayangnya dalam ranah keburukan. Tapi apakah para peserta demontrasi tidak melakukan korupsi? Apa mereka bersih? Bukankah mereka mengeruk untung dengan mengikuti organisasi yang ada di bawah naungan kampus dan memanipulasi segala laporan keuangan demi menghidupi rutinitas kopi, rokok, dan pacaran mereka? Pada saat ini kita di paksa untuk memercayai kebohongan, sampai-sampai kebenaran musnah di hadapan kita. Bukankah kita harus selalu menerapkan atau mengintropeksi diri kita terlebih dahulu sebelum kepada orang lain? Mana yang harus kita salahkan? Kebenaran adalah suatu proses untuk kita selalu berfikir akan suatu keadaan, karena mengklaim adalah suatu ciri dari sebuah kebohongan.
Maling teriak maling pun terjadi pada saat ini bukan? Dan kita menjadi kelompok simulakra atau gerumulan yang hanya mengikuti apa yang penguasa katakan, kemudian mengahardik mati-matian yang menjadi sasaran tanpa ampun tanpa kita berfikir ulang, padahal kita hidup dengan sebuah otak untuk berfikir, hati untuk merasakan apa yang tak bisa di tangkap oleh indera, dan anggota badan untuk melakukan segala sesuatu yang baik, bukankah itu yang agama ajarkan? Bukan saling caci-mencaci sesama manusia, saling bentrok, saling pukul. Buaknkah demontrasi hari ini hanya sebatas acara seremonial bagi mahasiswa? Sudahlah jangan di bahas lagi, ayo damai!.
Mari sebagai bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila, janganlah sampai fikiran dan hati kita di paksa untuk berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Pancasila itu sendiri. Maling teriak maling adalah cikal bakal perpecahan dan pertengkaran yang akan terjadi jika di biarkan begitu lama, gunakan fikiran kita untuk berfikir ulang terhadap fenomena hari ini, banyak hal yang bisa kita lakukan, semisal berdikusi dengan orang pengamat politik, gampang bukan?. Gunakan hati kita untuk selalu merasakan sifat kemanusian kita, karena manusia dasarnya adalah makhluk yang sempurna, yang memiliki kasih sayang yang sangat besar kepada segala makhluk yang ada di dunia ini, atak aka nada penindasan, kekerasan ataupun caci-maki yang akan kita lakukan jika kita selalu menggunakan hati untuk bersahabat.

Malang 07 September 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berhulu pada Hujan

  menyusuri seteiap manuskrip yang sudah usang, menerjemahkan dan memulai kembali setiap kata yang telah tertulis. aku terdiam pada kata yang telah usai, ditempa oleh air yang membuatnya kacau, dan aku kembali kepad kata pertama, mencoba segala usaha kembali kepada hari dimana tulisan itu ditulis, aku menemukannya, sedikit senyum ini terumbar, lantas aku menemukanmu dengan senyum yang sudah lama aku lupakan "kau benar dengan tidak mencintaiku Nona"  aku terburu-buru menutup naskah itu kembali, terasa nyeri ke hulu hati paling lubuk, dan kau benar-benar sudah usang untuk aku hampiri kembali, tapi hujan dan deras membujuk diriku dan memindahkan pandangan pada gemericik air di atas tanah, lalu ilalang seakan berdzikir dengan indah, megisyaratkan akan keindahan senyummu yang pernah kau ukir bersamaku ketika hujan. aku tak bisa melupakan tangan yang kau julurkan untuk menghadang air hujan yang ingin jatuh ke tanah, dengan pejam yang kau lakukan, aku menirukannya, aku meniru untuk ...

"Perjalanan Kopi (19)"

Aku tidak sempat memanifestasikan hujan tadi menjadi sebuah sajak tentang dirimu nona, aku terlalu menghayati perjumpaan kita melewati hujan, bahkan dirimu datang melewati hujan dan deru atap yang ramai. Sempat saja aku bertanya perihal keadaan dirimu, sudahkah dirimu menikmati hujan malam ini Nona? Mungkin saja disana makna hujan berubah seseorang yang bukan aku, atau bahkan hujan akan membawamu menyelami kitab kuno yang selalu kau pelajari. Beberapa waktu lalu dirimu mempertanyakan objek dalam setiap sajakku, apa dirimu berpura-pura tidak tahu Nona? Atau bahkan dirimu benar tidak tahu? Atau lebih buruk kau tidak tahu menahu objek sajakku Nona? Tersenyumlah Nona, akan aku jawab perihal objek dalam setiap sajakku ini, sajakku adalah manifestasi cinta dan rindu padamu Nona, seorang Nona yang mempunyai senyum yang meluluhlantakkan setiap kota layaknya atom. J-COFFE setelah hujan, 23 Desember 2019

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019