Langsung ke konten utama

Kita Rindu Munir

Kita Rindu Munir
Pada zaman milenial ini kita kerap akan bertemu dengan banyak orang yang selalu merasa dirinya paling benar tanpa melihat lokus etika kebenaran tersebut, kebenaran itu hanya dalam paradigmatic mereka sendiri, bahkan dengan konsep yang mereka lakukan kekerasan, penindasan diberi lebel halal oleh mereka sendiri.
Konsep kebenaran memiliki beberapa proposional diantaranya kebenaran necessary – tidak perlu berfikir lama untuk menentukan kebenarannya, semisal lapar, tak perlu dipertanyakan lagi apakah saya lapar atau tidak kalo semisal kita lapar – kebenaran korespondensi – antara kebenaran hari ini dan di masa lalu memiliki korelasi atau kecocokan konsep kebenaran realitas, semisal bumi itu bulat di masa lalu, dan sekarangpun masih bulat dengan adanya korelasi kebenaran yang sesuai dengan realitas – kebenaran koherensi – dimana kebenaran ini sesuai dengan empiris atau pengalaman yang kita lalui semisal, Rhaisa seorang penyanyi dan public figure parasnya cantik, hal itu telah kita buktikan dengan empirisme kita sendiri, dengan melihatnya langsung atau melalui televisi – kebenaran pragmatis – kebenaran ini cenderung secara intuisi, contohnya saja jatuh cinta itu sangat menggembirakan. Jika kita fikir untuk mengetahui cinta kita harus berpengalaman, tapi secara tidak langsung untuk membuktikan empiris harus melalui panca indera, karena panca indera adalah alat untuk mengetahui sesuatu kemudian diolah oleh pengalaman atau empiris – yang terakhir adalah kebenaran standpoint – kebenaran ini tergantung dari sudut pandang masing-masing individu, terserah kita akan melihat dari sudut pandang mana, contohnya Robinhut seorang pencuri handal, jika kita melihat dari sudut pandang pencuri jelas saja perbuatan itu adalah perbuatan tercela, tapi jika di lihat dari sudut pandang menolong orang miskin itu sangat terpuji sekali bukan? – sebenarnya pada tulisan ini saya bukan mau menjelaskan tentang kebenaran secara berlanjut, mungkin sedikit ulasan ini akan membantu kita semua untuk tidak tersesat melihat kebenaran yang mungkin sulit kita temukan hari ini.
Semua perbuatan di atas mereka lakukan untuk kepentingan mereka masing-masing, dan hal itu sangat tidak diperbolehkan oleh negara, termasuk negara Indonesia dimana terdapat undang-undang yang mengatur akan HAM (hak asasi manusia) yang meliputi: (http://www.syaldi.web.id/apa-itu-hak-asasi-manusia)
1.      Hak Untuk Hidup: hak untuk hidup dan meningkatkan taraf hidup, hidup tentram, aman dan damai dan lingkungan hidup
2.      Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan: Hak untuk membentuk suatu keluarga melalui perkawinan yang sah
3.      Hak Mengembangkan kebutuhan dasar: hak untuk pemenuhan diri, hak pengembangan pribadi, hak atas manfaat iptek, dan hak atas komunikasi
4.      Hak memperoleh keadilan: hak perlindungan hukum, hak keadilan dalam proses hukum, dan hak atas hukum yang adil
5.      Hak atas kebebasan dari perbudakan: hak untuk bebas dari perbudakan pribadi, hak atas keutuhan pribadi, kebebasan memeluk agama dan keyakinan politik, kebebasan untuk berserikat dan berkumpul, kebebasan untuk menyampaikan pendapat, kebebasan untuk menyampaikan pendapat, dan status kewarganegaraan
6.      Hak atas rasa aman: hak mencari suaka dan perlindungan diri pribadi
7.      Hak atas kesejahteraan: hak milik, hak atas pekerjaan, hak untuk bertempat tinggal layak, jaminan sosial, dan perlindungan bagi kelompok rentan
8.      Turut serta dalam pemerintahan: hak pilih dalam pemilihan umum dan hak untuk berpendapat
9.      Hak perempuan: hak pengembangan pribadi dan persamaan dalam hukum dan hak perlindungan reproduksi
10.  Hak anak: hak hidup untuk anak, status warga negara, hak anak yang rentan, hak pengembangan pribadi dan perlindungan hukum, dan hak jaminan sosial anak.
Tapi apakah hak asasi manusia sudah terlaksanakan dengan baik hari ini? Bukankah masih banyak orang-orang yang memaksa kita untuk menentukan jalan atau pilihan kita untuk masa depan negara kita contohnya saja pemilihan presiden yang memaksa kita untuk memilih presiden Z atau lain sebagainya.
Apakah kita masih ingat sosok Munir? Nama lengkapnya Munir Said Thalib keturunan orang Arab. Saya yakin dari sekian ribu mahasiswa kota Malang hanya segelintir mahasiswa yang megetahui bahwa sanya beliau adalah orang Malang, kelahiran kota Malang 8 desember 1965 dan belliaupun pernah menuntut ilmu di salah satu universitas negeri ternama di kota Malang. Beliau adalah seorang aktifis HAM yang harus menghebuskan nafas terakhirnya di atas pesawat Jakarta menuju Amsterdam pada tanggal 7 september 2004, hal itu bukan tiada sebab, setelah di otopsi terdapat racun yang ada di dalam tubuh munir, ada oknum yang benci terhadapnya sehingga harus menyingkirkannya dengan acara licik seperti itu, dan sampai hari ini tak di termukan siapa dalangdi balik pembunuhan Munir tersebut. Meskipun beliau belum atau bukan sebagai pahlawan yang di resmikan oleh negara, tapi bagi saya siapapun yang rela meneriakkan kebenaran, dialah pahlawan sebenarnya.
Saya masih akan menceritakan tentang Munir, mungkin dengan cerita singkan tentang munir ini, kalian akan terbangun dari tidur pulas kalian, karena masih ada penindasan yang masih merajalela tanpa kita peduli sebutirpun. Saya lanjut, jabatan terakhir Munir adalah Direktur Eksekutifv Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia, namanya melambung karena perjuangan beliau mengungkap kasus HAM yaitu membela aktivis yang menjadi korban penculikan tim mawar dari kopasus yang membuat Dirjen Kopasus Prabowo Subianto di adili. Sungguh kejamnya penguasa demi pembelaan martabat dirinya seorang harus menjadi tumbal, “kami tak akan lupa hari itu Munir”.
Hal tersebut terjadi lagi hari ini, dimana hukum mulai di perjual belikan, siapa yang banyak uang hokum menjadi mudah baginya, pejabat manapun yang terjangkit penyakit korupsi mereka masih bisa tertawa dengan melihat lawakan melalui televise maupun handphone yang meraka bawa dalam lapas, bahkan tak jarang mereka masih bisa berlibur, menghirup udara segar di luar negeri, sedangkan orang miskin yang terlibat hokum pidana, mereka harus merengek kesepian dengan waktu yang sangat panjang dengan pidana yang lebih kecil daripada korupsi. Hari ini kita butuh sosok Munir, sosok yang akan selalu membelalakkan matanya kepada penindasan, penyalah gunaan hokum dan lain sebagainya. Siapakah sosok tersebut? Ialah kita sendiri sebagai bangsa Indonesia yang selalu menyanyikan lagu Indonesia raya setiap hari senin pagi, kalo tidak setahun sekali dalam hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, kalaupun tidak kkita pernah mendengar dan tersenyum menghayati lagu tersebut.
Bukan cuma hukum saja, kemiskinanpun mulai  merajalela sebagai cermin tidak terlaksananya hak asasi manusia di Indonesia, jika kita anggap hak asasi manusia adalah cara kita untuk bertindak dengan semua kita, itu adalah pemikiran bodoh atau penyakit yang harus kita hilangkan. Contohnya saja seorang kaya raya yang mempunyai banyak harta tapi tak sedikitpun uang yang mengalir kepada orang miskin satu lagi ketika kita ada di ruangan anggap saja kelas dimana terdapat beberapa anak yang sedang belajar sedangkan kita akan berteriak kencang ataupun membuat gaduh, dan anak yang belajarpun menegur kita untuk tidak gaduh lalu dengan gagah kita akan berucap “terserah akulah, ini kan hak asasi manusia” betapa bodohnya pernyataan tersebut. Itulah salah satu  contoh penyalah gunaan hak asasi manusia.
 Yang lebih fundamentalnya lagi adalah membiarkan saudara kita kesakitan, kelaparan sedangkan hidup kita telah terpenuhi segala macam rupanya keji, salah besar jika kita mengahrdik tuhan ketika seseorang meninggal dalam keadaan kelaparaan, jikalau tuhan ada di samping kita saat ini niscaya tuhan akan mengahrdik kita mati-matian dan mengatakan “kemana saja kalian ketika saudara kalian kelaparan?”. Mengutip perkataan Nelson Mandela seorang revolusioner antiapartheid dan presiden Afrika Selatan dari tahun 1994-1999 mengatakan “mengatasi kemiskinan bukan sebuah sikap amal. Itu merupakan tindakan keadilan. Itu merupakan perlindungan terhadap hak asasi manusia yang fundamental, ha katas maartabat dan kehidupan yang layak. Selagi kemiskinan berlanjut tidak akan ada kemerdekaan sejati.”
Dua puluh hari hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia berlalu, masih banyak tugas yang harus kita emban untuk Indonesia kita, karena Indonesia bukannlah milik presiden, partai, dan oranng kaya saja, tapi Indonesia adalah milik bangsa Indonesia bersama maka wajib bagi kita untuk melindungi dan menjaga nama baik Indonesia dimanapun dan kapanpun. Mari kita lawan segala hal yang berbau penindasan, penjajahan, korupsi, dan lain sebagainya yang berbau licik. Mari kita bangun jiwa kita, bangun raga kita untuk Indonesia Raya.


Malang, 06 September 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Jejak Perjalanan (1)"

Sudah sampai mana kita telah berjalan? Sudahkah kita beristirahat sejenak, meneguk air lalu menikmati alam semesta yang indah ini Nona? Perjalanan yang paling indah adalah perjalanan menuju sebuah hakikat, mengapa tidak jikalau hakikat adalah dzat yang selalu ada dalam kehidupan kita, sedangkan dirimu Nona selalu saja menghilang dalam kubungan sajak-sajak. Aku adalah pejalan waktu yang selalu lelah pada setiap perjalanan namun aku tak akan pernah berhenti untuk berjalan, karena tujuanku adalah diri-Nya yang tak berujung. Pada setiap pagi, selepas fajar merah dirimu selalu redup bersama mataku Nona, tapi mengapa setiap mataku terbangun dirimu selalu tersenyum dihadapanku Nona. Pada pemilik dzat yang maha agung aku titipkan segala takdirku, begitupun juga dirimu Nona. POM Bensin Suramadu, 15 Desember 2019
Perempuan yang bersamaku hari ini 1/ Lama sudah tak kusuai debur gugup hati ini Beberapa saat ku liat dari balik kaca senyum indah yang bersuai di belantara hutan kota Katakan bahwa ini adalah kelopak yang akan tumbuh setelah dirimu bangkit dari rapuh mu 2/ Tak akan ada satupun serangga yang akan menumbangkan dan mengisap madumu Tak akan ada satupun angin maupun bencana lain yang akan menguburkan mu, kecuali pupuk yang akan aku beri setiap pagi 3/ Bersemilah kembali di tanah ku ini, akan ku beri air dan pupuk setiap hari, kan ku tatap dirimu setiap saat, akan ku selimuti dirimu kala angin mulai melanda, ku harap tuhan tidak berkata lain pada ketentuan yang aku impikan 4/ Berjanjilah tuhan akan menciptakan nya 20 april 

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019