Jangan Lupa di-Upgrade ke-Santri-annya
Pernahkah kalian tingggal di pondok pesantren? Pondok pesantren
apa? Berapa lama? Itu adalah beberapa pertanyaan yag sering saya dapatkan
setelah berada di perantauan, entah juga sabab-musabab apa mereka menanyakan
pertanyaan seperti ino, seperti tidak ada pertanyaan yang saja saya fikir. Tapi
pernahkah kita berfikir bahwa pertanyaan itu adalh pertanyaan yang mulia, yang
tinggi, kenapa tidak, secara tidak langsung diri kita di kenal dengan tampang
yang alim dan dan mempunyai akhlak yang baik, di tambah lagi seakaan kita
mempunyai kedalam spiritual, tapi jangan lupa pertanyaan juga bisa berupa boomerang
bagi kita semua, mungkin saja mereka akan menjudge kita dengan kelakuan kita
yang tak tahu sopan santun, dan mereka fikir pondoklah yang membentuk kita
dengan kejelekan yang kita punya.
Pondok pesantren merupakan salah satu budaya local yang telah ada
sangat lama sekali. Penggagasnya adalah barisan para walisongo yang menyebarkan
agama Islam di bumi pertiwi ini. Sebagai bangsa Indonesia kita harus bangga
dengan budaya lokal yang kita miliki yaitu pondok pesantren. Ada yang
mengatakan bahwa sanya pondok pesantren adalah salah satu peninggalan budaya
yang sangat kental dari walisongo, dimana di dalam pesantren kit akan menemukan
system pengajaran yang sangat jarang sekali kita temukan diselain pondok
pesantren, salah satunya adalah ngaji sorogan, dimana para santri
(sebutan bagi seseorang yyang sedang menimba di dalam pondok pesantren) mengaji
satu persatu kepada kyai atau ustadz, dan kyai dan ustadz tersebut menyimak
dengan seksama.
Bukan Cuma itu saja, ada lagi kegiatan tahlilan, dzikiran, dhiba’an,
yang mana saat ini kegiatan tersebut di sebut bid’ah oleh beberapa kelompok
yang beraliran radikal, mereka mengatakan bahwa sanya tahlilan, sholawatan, mauled
nabi dan masih banyak lagi adalah suatu ajaran yang di buat-buat dan itu tidak
ada di agama islam, mereka mensalah tafsirkan hadist nabi كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
mungkin saja mereka kurang ngopi, mangkanya kalo pengen tahu menafsirkan dalil
dengan benar belajar ilmu tafsir, dimana? Di pondok pesantren lah.
Di pondok pesantren banyak kita dapati kegiatan yang sangat
membangun, baik membangun karakter kita, jati diri kita, dan akhlak kita,
bagaimana tidak setiap jam 3 pagi (kalo saya sebut malem itu, tapi tak apalah
menghormati kaidah yang ada) para santri akan di bangunkan secara paksa untuk
melaksanakan sholat tahajud bersama, di tambah lagi mengaji yasin setelahnya,
sholat subuh bersama, ngaji Al-Qur’an setelah subuh, gotong royong kebersihan
halaman pondok, dan masih banyak lagi, tapi capek juga saya menyebutkan
semuanya, jika kalian penasaran datanglah ke pondok pesantren bagi yang belom
tahu sama sekali, angggap saja kalian study tour.
Pada era Dilan dan Milea ini, pondok pesantren sudah banyak tidak idolakan
lagi, ada yang mengatakan pondok pesantren itu orangnya kolot-kolot, gak tahu
style, orangnya cupu, kalo saya jawab emang iya, bagaimana tidak pondok
pesantren ingin mengajarkan kita untuk sederhana, menikmati segalanya tanpa
berlebih-lebihan, apa salahnya coba? Bahkan ada yang lebih sadis, ada yang mengatakan bahwa pondok pesantren
adalah sarangnya LGBT dan teroris, wah ini pernyataan yang mengundang tawa, bukan
amarah lo ya. Sudahlah sesuatu yang belom tentu benar janganlah kita ladenin,
apalagi salah, agar tidak terjadinya pergesekan yang menyebabkan kheos.
Ada sebuah gerakan yang dilakukan oleh PBNU untuk meningkatkan daya
jual pondok pesantren yang tak bersaing hari ini. Pernah dengan gerakan ayo
mondok dan hari santri nasional? Semua ini dicetus pada era zaman pak Jokowi
lo, terimakasih pak Jokowi. Tapi ketahuilah haris santri nasional mendapat
kritikan dan kecaman yang sangat besar, hal ini di karenakan hari santri di
klaim sebagai hari yang hanya dimiliki oleh orang NU saja, kenapa tidak? Kebanyakan
orang yang mondok adalah orang NU, dan merekomendasikan hari santri nasionalpun
orang NU, untung saja saya orang NU dan anak pesantren, di syukuri saja, toh
hari santri kata Gus Mus bukanlah hari untuk orang yang pernah atau sedang ada
di pondok pesantren, tapi siapapun yang mempunyai perilaku yang baik, akhlak
yang baik, itulah cerminan dari seorang santri, hebat bukan? Jadi siapapun yang
bertanya apakah kalian seorang santri? Jawab saja iya jikalau kalian mempunyai
akhlak yang baik, gitu aja kok, jangan di buat repot.
Selanjutnya saya akan menceritakan suka apa keuntungan mondok,
mumpung saya juga pernah mondok selama 6 tahun, lumayanlah, bahkan ada yang
sampe puluhan tahun, bahkan itupun dari sejak TK, bayangkan coba, dari sejak
kecil banget, masih unyuk-unyuk sampe detik ini masih mondok, senior di atas
saya setahun. Tinggal di pondok pesantren merupakan suatu anugerah bagi saya,
kenapa tidak? Disana saya akan mendapat banyak teman, hidup bersama orang-orang
yang sebelumnya belom saya kenal dam akhirnya menjadi sahabat, belajar mandiri
tanpa harus dimandikan orang tua, dan masih banyak lagi. Sempat saja ada godaan
untuk berhenti mondok dan melanjutkan jenjang pendidikan diluar pondok, tapi
atas paksaan orang tua saya bersyukur, dan itu saya rasakan hari ini. Boleh saja
kita menginginkan kehidupan yang menurut kita indah di pandang, karena ada
pepatah “rumput tetangga lebih hijau dari rumput kita sendiri”, dan itu semua
manusiawi, sudah biasa, yang tidak biasa bagaimana kita menyikapi semua hal
tersebut, iya gak?.
Apalagi sekarang saya berada di perantauan tanpa ada satu orangpun
yang mengawasi tingkah laku, pergaulan, etikan dan lain sebagainya, terkadang
saya merasa risih, meskipun hal ini yang saya idam-idamkan dari dulu, tapi apa
yang saya rasakan hari ini? Kerinduan pondok pesantren mulai menggeliat dihati
saya. Saya mondok pertama kali di pondok pesantren Annuqayah daerah Latee yang
diasuh pada zaman saya Alm. Ahmad Basyir AS, tapi beliau telah berpulang ke
rahmatullah, semoga beliau selalu di rahmati oleh Allah, dan semoga beliau
selalu menjadi suri tauladan bagi kita semua. Pengasuh hari ini adalah salah
satu mantan rector UINSA (Universitas Islam Negeri Surabaya) yaitu Prof. KH.
Abdul A’la, suangar bukan?. Setelah itu saya melanjutkan ke pondok pesantren
Darul Falah Amstilati yang diasuh oleh pengasuh pertama sampai saat ini yaitu
KH. Taufiqul Hakim.
Sebuah keberuntungan yang sangat indah yang pernah saya miliki,
yaitu tinggal dan berproses di pondok pesantren. Jika setelah kita mondok di
pondok pesantren, kita akan mendapat gelar alumni, tapi saya kurang setuju kalo
mandat itusaya terima, karena saya adalah santri yang tanpa embel-embel alumni,
karena alumni identic dengan melepaskan, tidak mau tahu, hal itu adalah suatu
pengkhianatan bagi santri. Sebagai santri dimanapun dan kapanpun ada santri
dalam hati kita, jika ajakan untuk berkumpul dengan sesama santri bahkan satu
almamater belom bisa membuat kalian bergerak lalu dengan apalagi? Mungkin ada
salah satu dawuh dari salah satu ustadz saya, beliau berdawuh “jek kaloppaen,
mun la ambu deggik, pah kaloar, anyareh santrenah, entar ka pondok, pol-kompol
maso nak kanak pondok, tekkah ah la sakejjek” (“jangan lupa, nanti kalian sudah
berhenti, dan kalian keluar, perbaharui kesantrian kalian dengan kembali lagi
ke pondok dan kumpul dengan para santri meskipun itu hanya beberapa saat”).
Jika saya tangkap, jikalau ada panggilan pesantren, atau kebutuhan
pesantren, atau bahkan lagi kegiatan untuk mendoakan para kyai, itu bukan Cuma sekedar
panggilan biasa, tapi itu adalah panggilan jiwa dari pesantren. Tak ada yang
bisa menghalangi saya kecuali tuhan berkata lain. Jika saya ibaratkan pondok
pesantren adalah rumah saya – tempat berlindung dari segala mara bahaya, panas,
tidur dan lain sebagainya – boleh saja kita keluar tanpa pamit, keluyuran dan
lain sebagainya, tapi jangan lupa bahwa rumah adalah tempat kita pulang, tempat
kita akan tertidur dan tersenyum, karena tempat terakhir kita adalah rumah –
pondok pesantren - .
Malang, 10 September 2018
Komentar
Posting Komentar