Langsung ke konten utama

Let’s Nikah?

Let’s Nikah?
Nikah merupakan suatu hal yang sangat sacral, dari semua agamapun terdapat yang namanya nikah, apalagi dalam agama islam yang telah tentukan bagaimana tata acara melakukan nikah, semuanya telah di atur baik dalam al-qur’an, hadist dan ijmak ulama. Nikah beda halnya dengan istilah kawin yang saya dapat dari teman-teman saya “kawin itu pakai urat, kalo nikah pake mahar dan ijab Kabul” cukup lucu rupanya hal istilah tersebut yang saya kira memiliki makna yang sama akan tetapi nyatanya menurut anak milenial sekarang beda.
Dalam media sosial banyak sekali para ustadz pendatang baru atau bisa di bilang ustadz cinta berdakwah menikah, entah mengapa hal itu sangat disukai para kaum feminis, bahkan sering kali hal itu menjadi bahan story whatssap dan instragam mereka, tapi nyatanya hal itu sebagai pancingan kepada lawan pasangan atau hanya sebagai eksistensial belaka. Banyak sekali pertayaan mengenai hal menikah ini, mengenai syarat dan prasyarat tidak perlu di jabarkan lagi, karena hal itu pasti ada dan harus di lakukan demi keafsahan sebuah pernikahan, tapi pertanyaan ini mungkin jarang kita fikirkan, kenapa kita harus menikah? Apa hakikat dari sebuah pernikahan itu sampai-sampai nikah menjadi sesuatu hal yang bisa dikatakan wajib dalam agama Islam? Dan masih banyak lagi yang lain mungkin dalam pembahasan selanjutnya.
Marilah kembali kepada zaman jahiliyah dimana disana merupakan zaman yang tidak bermoral, kata jahiliyah bukan di maknai dengan masa kebodohan, kenapa? Karena pada zaman jahiliyahpun banyak sekali kita temukan para penyair arab yang sangat lihai mempermiankan kata di atas kertas dan mempertunjukkannya di panggung pasar yang di gelar ketika orang-orang dari luar daerah tersebut belanja di pasar tersebut. Mengapa pada zaman jahiliyah disebut dengan zaman yang tak mempunyai moral? Karena pada zaman tersebut masa yang sangat panjang semenjak diangkatnya nabi Isa ke atas langit, sekitas ribuan tahun dunia ini tidak mempunyai pemimpin atau yang kita sebut dengan nabi, penerusnya pun tidak kita temukan, darisana taka da yang mengubah terhadap pola moral yang di lakukan oleh masyarakat jahiliyah, tidak ada pernikahan, selayak hewan yang kita lihat hari ini, bergaul tanpa adanya ikatan syariat, melakukan hal seenaknya tanpa memikirkan ikatan tali dengan manusia dan lain sebagainya. Semenjak kedatangan nabi Muhammad zaman pun berubah menjadi zaman yang terang benderang dengan ajaran nabi yaitu Islam, mengajarkan segala sisi kehidupan yang kita lakukan saat ini, baik dari cara kita menyembah terhadap tuhan, bersedekah, tidak meminum sesuatu yang membaukan, mengasahi anak yatim, dana salah satunya lagi adalah nikah yang menjadi sunah Nabi Muhammad. Nabi mengajarkan segala sisi kehidupan dengan hakikatnya, bukan Cuma sekedar eksistensial saja tanpa adanya makna, menikahpun juga, kenapa kita di sunnahkan untuk menikah, salah satunya yang paling sering kita jawab adalah untuk terhindar dari makasiat, padahal masih banyak lagi hakikat yang bisa kita ambil dari nikah itu sendiri, yaitu untuk memiliki keturunan demi menegakkan agama Islam, saling berbagi bersama, saling melengkapi, dan yang paling penting menikah adalah satu jalan untuk kita leboih dekat kepada sang pencipta alam semesta dan isinya.
Melihat terhadap sejarah yang di torehkan Nabi Muhammad yang setelah itu menjadi kesunnahan menjadi kesalah fahaman bahkan menjadi pertengkaran yang bertubi-tubi, semisal kisah nabi Muhammad yang melakukan praktek poligami  terhadap siti khodijah dan istri-istri lainnya, dan para manusia pun berpendapat bahwasanya poligami adalah kesunnahan yang harus kita lakukan, dan dalil yang meireka lancarkan adalah ayat Al-Qur’an demi menguatkan argumentasi mereka, sebelum kita melakukan praktek poligami perlu kita tahu terlebih dahulu hakikat dari nikah itu sendiri, bisa ,saya katakan nikah dan poligami adalah suatu kontradiksi yang perlu kita analisa lagi. Nikah merupakan suatu hal yang sacral, dimana dengan kata ijab Kabul yang berbunya “Qobiltu nikahaha, wa tazwijaha, bimahri…..” dalam lafadz htersebut kita hanya mengartikan dengan tekstual saja, tidak dengan lebih dalam sampai mencapai sebuah substansi yang tak bisa di tawar lagi, dalam lafadz tersebut bisa di katakan kita memasrahkan segala kehidupan kita kepada calon istri kita atau sebalikya, suka duka bersama, saling berbagi, saling tidak menyakiti, jika hal tersebut kita langgar, maka sebenarnya kita telah membohongi dan berkhianat kepadaa janji kita sendiri.
Mari kita menyalam lebih dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang di bangun dengan pondasi cinta yang kokoh, setelah itu pasangan kita ingin melakukan poligami atau dalam bahasa istilah Indonesianya adalah madu – istilah ini menurut saya kurang tepat, karena istilah madu berindikasi kepada suatu hal yang indah, manis, berkhasiat dan juga sangat berharga, tapi nyatanya kalo madu berindikasi terhadap poligami yang menimbulkan sakit hati atau prahara rumah tangga, bahkan terjadi mala petaka mungkin kata madu harus kita dekontruksi – akan ada suatu hal yang menyakiti hati, apalagi dari pihak sang istri, bisa kita tanyakan seluruh perempuan yang kebanyakan menolak terhadaap poligami, bahkan menentang terhadap poligami, bukan mereka tidak terima terhadap sabda tuhan ataupun nabinya, tapi ini lebih dari segi memanusikan manusia (humanism). Gerakan feminism terbnetuk akibat adanya sebuah ketimpangan yang terjadi pada perempuan, contohnya Nawal El-Sa’adawi tokoh gerakan feminis mesir, dan ibu Kartini tokoh gerakan feminis Indonesia yang sering kita dengar tapi tak pernah apa yang dia lakukan dalam memperjuangkan kemerdekaan kaum feminis baik dalam segala sisi – pendidikan, kesetaraan, kehormatan dll -.
Ibu Kartini merupakan tokoh feminis yang memberi banyak kontribusi dalam kemerdekaan kepada kaum feminis, dia memperjuangkan perempuan untuk bisa mengenyam pendidikan, bahkan dia menolak di nikahi oleh bupati Rembang karena bupati Rembang mempunyai banyak istri, tapi akhirnya ibu Kartini pupus dalam menegakkan idealismnya karena nasehat ibunya dan keluarganya yang membuat dia dapat menerima pernikahan tersebut. Ada statement yang membuat saya tergegap membisu mengenai perasaan “Salah satu dari pada cita-cita yang hendak kuseberkan ialah: Hormatilah segala yang hidup, hak-haknya, perasaanya, baik tidak terpaksa baik pun karena terpaksa, haruslah juga segan menyakiti makhluk lain, sedikitpun jangan jangan sampai menyakitinya” – bisa saja kita menikah lebih dari satu perempuan, tapi ada hal yang perlu kita ketahui mengenai  perasaan manusia, memang Islam membolehkan menikah lebih dari satu, tapi dengan mempoligami kita membagi hati kita sebagai seorang laki-laki, dan perempuan tidak mau rasanya di bagi, sama saja kita menyakiti  perasaan perempuan, dan dalam Islam menyakiti perasan seseorang sangat di larang karena telah melanggar terhadap hablum minan nas, hal tersebut tidak di perbolehkan oleh tuhan, dosa kita –
Dalam konteks Islam ada beberapa inti dari ajaran Islam itu sendiri, dimana jika sesuatu hal melanggar bisa di katakan kurang tepat (keadilan, kemanusian, kebebasan, kesetaraan) maka dari segi kemanusian, dan ketidak adilan poligami melanggar terhadap konteks ajaran Islam sendiri, menurut Ali ASghar Enginer seorang tokoh teolog pembebasan Islam yang memberi gagasan dan statement yang sangat menggugah  Islam datang dengan semangat pembebasan, akan tetapi sepeninggal Nabi Muhamad, Islam kehilangan elan vitalnya. Salah satunya terlihat dalam konsep teologinya. Teologi Islam yang pada awalnya dekat dengan keadilan sosial dan ekonomi, mulai beralih ke masalah-masalah eskatologi dan masalah yang bersifat duniawi. Teologi Islam kemuddian berkembang dengan metode skolastik dan spekulatif ( Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogjakartta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. X) hal ini di lakukan oleh ulama-ulama atau penguasa yang memiliki kepentingan didalamnya, menafsirkan secara ugal-ugalan untuk masyarakat tergiur dan membuatnya candu, ibu Kartini sempat berkata “Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama?”.  Akankah kita hanya bisa diam?.

Nikah bagi sebagian orang menjadi momok atau hantu yang sangat menakutkan, menghantui kemana saja kita akan berjalan, banyak sekali ketakutan yang di sebabkan oleh kata nikah, dari calon pasangan yang tidak ada, ataupun pasangan yang meragukan untuk di jadikan pasangan seumur hidup, ataupun menunggu kemapanan untuk menikah karena hidup dalam era postmodernisme melihat semua hal dari materi saja tanpa melihat hakikat atau subtansi yang sangat besar. Banyak sekali para muballigh pendatang yang berteriak kepada pemuda-pemudi untuk segera menikah, karena dengan menikah materimu akan bertambah, karena semua sesuatu di atur oleh tuhan, iya jika pasangan tersbut berusaha, jika tidak? Hal itu hanya spekulasi belaka, tapi lagi-lagi hal itu menjadi ke positifan pada era milenial ini dimana pergaulan bebas semakin marak di kalangan pemuda-pemudi yang merelakan keperawanan dan keperjakaan menjadi mahar sebelum ijab Kabul dan kata sah berkumandang. Sunguh tragis era milenial ini, mungkin gara-gara adanya acara televise yang isiny hanya sebatas cerita cinta ataupun film cinta yang bebas beredar luas di media televise dan di tonton ribuan anak bangsa Indonesia tanpa adanya bimbingan orang tua, hal itu sangat fatal.
Bukan Cuma televise, banyak lagi media yang mendukung akan adanya pergaulan bebas yang terjadi dan terealisasi pada zaman ini, handphone, internet, parawisata dan masih banyak lagi, boleh saja kita tidak ketinggalan akan industry yang sangat maju ini, tapi apakah kita mempunyai obat jiakalu hal ini terjadi overdosis, karena segala sesuatu bersifat paradok (kecuali cinta kepada tuhan). Nyatanya Indonesia kurang siap akan industri pada zaman ini, yang kita anggap berhasil, hal kitu bersifat boomerang bagi bangsa Indonesia. Mengapa saya bilang para mubaligh menyuarakan kawin muda? Supaya nafsu yang kita idap dapat terlampiaskan dengan tuntunan agama, tanpa mengkhianatinya.
Pada akhirnya hal ini menjadi perspektif masing-masing kepala yang mempunyai pendapat, semua orang bisa berpendapat secara bebas, meluapkan segara rasa dengan bentuk etika yang di katakan tatakrama dengan kesopanan. Tidak perlu meributkan sebuah perbedaan dalam lingkungan kita, nyatanya kita di ciptakan berbeda-beda untuk saling mengerti dan menghormati satu sama lain. Semua agama mengajarkan kasih sayang dan cinta, perdamaian dan toleransi yang sangat amat tinggi, jika kita melihat kekerasan baik dalam bentuki fisik, atau perkataan dengan melabelkan agama sebagai pengokohnya, bukankah kita orang-orang yang sangat biadab?. Marilah kita saling belajar kepada kehidupan sekitar, intropeksi diri terhadap apa yang kita lakukan, karena menurut presiden pertama kita Soekarno mengatakan, “jiwa seorang pemberani adalah jiwa yang berfikir dan berfikir ulang, membangun dan membangun ulang” karena tidak ada kata finish dalam suatu hal.
Begitupun dengan nikah, jika keadaannya seperti ini, dimana pergaulan bebas mulai merambah di kalangan muda-mudi bangsa Indonesia, bukankah dengan nukah muda merupakan solusi yang sangat baik untuk kita sekarang? Jikalau ada cara lain dengan cara berpuasa itu mencegah terhadap maksiat kenapa tidak? Banyak sekali frame yang bisa kita pakai dalam menyikapi banyak hal, salah satunya nikah, bisa saja menikah akan berhukum haram jikalau nikah akan berdampak mudlorot pada kita, seperti contoh dengan menikah kamu akan pindah agama, seperti seorrang agama Islam menikah dengan orang non-Islam yang menyebabkannya berpindah agama, atau lain sebagainya, hal ini bisa kita perspektifkan dengan ijtihad kita masing-masing dengan melihat hokum yang ada baik dalam agama maupun konstitusi negara.
Nikah bukanlah suatu permainan yang bisa kita mainkan, nikah adalah suatu kesakralan yang mungkin kita lakukan satu kali seumur hidup. Menikah merupakan jalan yang mungkin kita jalani untuk melengkapkan sunah nabi Muhammad, baik demi regenerasi bangsa Indonesia, agama masing-masing, dan demi kebahagian yang tercipta ketika kita akan menggendong anak kita. Jika kita siap unruk menikah kenapa kita masih menunda-nunda? Kita bisa merencanakan dengan siapa kita akan menikah, tapi dengan cinta kita tak bisa memilih kepada siapa kita harus mencintai. Wallahu A’lam.



Daftar Pustaka

( Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogjakartta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. X)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Jejak Perjalanan (1)"

Sudah sampai mana kita telah berjalan? Sudahkah kita beristirahat sejenak, meneguk air lalu menikmati alam semesta yang indah ini Nona? Perjalanan yang paling indah adalah perjalanan menuju sebuah hakikat, mengapa tidak jikalau hakikat adalah dzat yang selalu ada dalam kehidupan kita, sedangkan dirimu Nona selalu saja menghilang dalam kubungan sajak-sajak. Aku adalah pejalan waktu yang selalu lelah pada setiap perjalanan namun aku tak akan pernah berhenti untuk berjalan, karena tujuanku adalah diri-Nya yang tak berujung. Pada setiap pagi, selepas fajar merah dirimu selalu redup bersama mataku Nona, tapi mengapa setiap mataku terbangun dirimu selalu tersenyum dihadapanku Nona. Pada pemilik dzat yang maha agung aku titipkan segala takdirku, begitupun juga dirimu Nona. POM Bensin Suramadu, 15 Desember 2019
Perempuan yang bersamaku hari ini 1/ Lama sudah tak kusuai debur gugup hati ini Beberapa saat ku liat dari balik kaca senyum indah yang bersuai di belantara hutan kota Katakan bahwa ini adalah kelopak yang akan tumbuh setelah dirimu bangkit dari rapuh mu 2/ Tak akan ada satupun serangga yang akan menumbangkan dan mengisap madumu Tak akan ada satupun angin maupun bencana lain yang akan menguburkan mu, kecuali pupuk yang akan aku beri setiap pagi 3/ Bersemilah kembali di tanah ku ini, akan ku beri air dan pupuk setiap hari, kan ku tatap dirimu setiap saat, akan ku selimuti dirimu kala angin mulai melanda, ku harap tuhan tidak berkata lain pada ketentuan yang aku impikan 4/ Berjanjilah tuhan akan menciptakan nya 20 april 

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019