Langsung ke konten utama

DOSEN?

DOSEN?
            Pada zaman milenial ini kita di tuntut untuk tahu banyak hal, apaagi dalam bidang ilmu pengetahuan, dalam Indonesia jenjang pendidikan tercantum 9 tahun, yaitu dari jenjang sekolah dasar yang sering kita dengar SD selama 6 tahun SMP (sekolah menengah pertama) seama 3 tahun, kemudian SMA (sekolah menengah atas) selama 3 tahun, hal ini bukan menjadi akhir dalam jenjang pendidikan, setelah itu masih ada perguruan tinggi. Sekolah perguruan tinggi bukan menjadi kewajiban di Indonesia, tapi secar tidak angsung perguruan tinggi menjadi menset tinggi dalam tercapainya syatu kesuksesan anak muda kali ini, tapi apakah perguruan tinggi menjadi jainan kesuksesan bagi anak muda hari ini?
            Banyak seropohan dari setiap bidang pekerjaan menuntut karyawan atau pekerja minimal S1 (strata 1) yang di tmpuh kurang ebih selama 4 tahun, padahal dengan 4 tahun tersebut perguruan tinggi tidak menjamin kita di terima dn tidak menjamin akan kesusksesan lulusannya. Banyak sekali orang berkeluh kesah terhadap hal tersebut ‘apalagi orang yang derajat ekonominya rendah harus teringkuk menggigit jari meratapi hal tersebut, sehingga terjailah banyak pengnguran di Indonesia.
Perguruan tinggi yang sering kita dengar dengan istilah kampus adalah salah satu sekolah setelah jenjang SMA yang memberi gelar mahasiswa kepada murid-muridnya dan dosen pada pengajar di dalamnya. Perguruan tinggi adalah jenjang terakhir dalam strata sekoah dimana setelah kita ulus an memakai toga kita akan mendapat gear yang sangat hebat semisal S.os, S.hum, S.pdi dan masih banyak lagi, tapi apakah keilmuan lulusan perguruan tinggi sepadan dengan gelar yang mereka emban?.
            Setelah tamat SMA atau yang sederajat, para siswa dilema untuk memilih meneruskan jenjang pendidikannya, apa perguruan tinggi yang memberi banyak mimpi layaknya surga ataukah mencari pekerjaan dengan jahatnya biaya masuk kuliah yang sangat tinggi?  Jika saya mendiskripsikan tinggi adalah tempat pergulatan imu pengetahuan dn ideologi di dalamnya, mau tidk mau kita kan terjebak di dalamnya, bukan Cuma masjid, kota, tegnologi yang menjadi perdaban paa masa milenial, perguruan tinggipun menurut saya ikut campur atau bahkan menjadi pusat peradaban masa ini.
            Pada tulisan ini kita akan membuka tirai perguruan tinggi yang seolah eklusif  untuk kita tonton bersama namun pembahasan ini akan bertitik tumpu pada degradasi moral dosen yang mempunyai peran penting dalam kesuksesan mahasiswa dan Tri Dharma perguruan tinggi, hal ini yang perlu kita dalami bersama karena supaya anak bangsa seterusnya tidak akan merasa sial masuk bergulum dalam dunia perguruan ingi yang seolah waw dan membuat kita berdecak kagum mendengarnya dari balik televisi dan surat kabar.
            Dosen merupakan pengajar dalam perguruan tinggi, dimana setiap dosen mempunyai lokus tersendiri dalam setiap mata kuliah yang ia tekuni, seperti dosen matematika yang khusus atau bisa di katakan pakar dalam bidang matematika, dan lain sebagainya. Dosen yang merupakan pengajar dalam mencapai suatu ilmu hari ini malah menjadi momok bagi mahasiswa, seakan-akan mereka lebih menakutkan dari pada setan, hal itu di sebabkan tugas yang di limpahkan kepada mahasiswa tanpa belas kasih. Apakah dengan tugas mereka telah memberi apa yang kita butuhkan?. Nyatanya para dosen hari ini tidak mempunyai semangat unuk mencerdaskan mahasiswa, akan tetapi mereka hanya mengingat kertas merah yang bergambarkan presiden dan wakilnya yang pertama yang ada di dalam amplop, bahkan tugas tersebut hanya untuk menutupi kebodohan mereka yang sering melakukan absen  tanpa adanya koreksi, pertanyaan kali ini apa yang kia dapa dari semua tugas yag mereka sodorkan kepada mahasiswa? Harus kita katakan tak ada satuupun yang kita dapatkan dari semua itu kecuai keterpaksaan yang mereka gantungkan kepada angka-angkadi akhir semester.
            Jika kita bernostalgia kembali ke masa lalu dimana kita duduk manis di bangku TK, SD, SMP, dan SMA, kita akan di didik dengan penuh kesopanan, kedisipinan, keteladanan, apalagi jika kita mengintip sedikit pembelajaran di dalam pondok pesantren, dimana para pengajar di tuntut untuk menjadi suri tauladan bagi murid-muridnya, bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan saja, tapi juga mengajarkan tentang moral, hal itulah yang tidak bisa kita dapatkan dari perguruan tinggi.
            Pada era milenial ini dosen seakan menjadi dewa atau bahkan tuhan yang tidak bisa di salahkan, melakukan segala hal yang mereka lakukan tanpa melihat norma-norma atau kode etik pembelajaran dalam kelas, semisal melaksanakan kontrak perkuliahan dengan individualis, memakai sandal di dalam fakultas, atau tempat yang tidak di bolehkan memakai kaos dan sandal, berambut gondrong, merayu mahasiswa perempuan padahal ha itu dalah suatu bentuk peraturan yang wajib di patuhi bersama, hal ini yang menajdi watah dosen hari ini, bahkan kali ini banyak terdengar berita hebih yang menggegerkan seluruh kuping yang mendengar bahwa dosen melakukan perbuatan tindak asusila terhadap mahasiswa perempuan, seperti yang terjadi di perguruan tinggi terkenal di Indonesia Universitas Gajah Mada Yogyakarta di lansir dari kompas.com 4 juni 2016 09:09 WIB yang di lakukan oleh dosen berinisial (EH) kepada mahasiswi nya, dengan modus proyek resume jurnal, dan pada akhirnya di tempat kerja si dosen korban pun di peluk dari samping. Hal ini menggambarkan kekosongan moral yang di miliki oleh dosen perguruan tinggi pada saat ini, dan masih banyak lagi korban asusila yang dilakukan oleh dosen kepada mahasiswinya
            Dalam tulisan essay karangan Ria Dwi Septtyani yang berjudul “Permasaahan pendidikan di Indonesia” menyatakan bahwa penyebab terjadinya degradasi kuaitas pendidikan di Indonesia di sebabkan oleh beberapa hal yang di antaranya adalah efektifitas pendidikan yang di sebabkan oleh tidak adanya tujuan prndidikan yang jeas sebelumnya, apa yang ingin di capai? Dan masih banyak lagi, berikunya adalah efesiensi pengajaran bagaimana kita mengahsilkan efektifitas dari suatu tujuan  dengan proses yangebih murah, dan yang terakhir adalah  standarisasi pendidikan yang selalu berubah, ha ini menggambarkan bahwa sanya pendidikan Indonesia tidak mempunya idealisme, seperti yang kita ihat pembelajaran, standar dan kompetensi daam pendidikan formal maupun informal hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja tak ada seikitpun esensi yang nyata di dalamnya, ha ini menunjukkan betapa sadisnya pihak birokrat melalaikan para mahasiswa yang berharap banyak terhadap perguruan tinggi.
            Jika melihat sistem yang di buat oleh kampus yang begitu dinamis kita akan merasa hebat dengan visi-misi yang selalu menjadi kebanggan dari setiap perguruan tinggi di Indonesia yaitu Tri Dharma perguruan tinggi, pertama pembelajaran yang sangat tidak mendidik, yang di lakukan oleh dosen dengan sekedar persentasi tanpa adanya tindak lanjut, hanya mamantingkan absensi, kedua penelitian dan pengembangn imu yang di dapat di perguruan tinggi dengan penyalah tempatan tempat adalah bentuk ketidak becusan dosen terhadap visi-misi perguruan tinggi dan mahasiswanya, ketiga pengabdian masyarakat tenpa adanya kontrol langsung ke lapangan , dan masih banyak lagi. Karl Marx menyatakan dalam manifesto partai komunis:
“sejarah semua masyarakat adalah sejarah perjuangan kelas. Orang merdeka dan budak, patrisis dan plejeber, tuan bangsawan dan hamba, tukang ahli dan tukang pembantu, pendeknya: penindas dab yang tertindas senantiasa ada dalam pertentangan satu dengan yang lain”.
Hal ini menyatakan bahwa pergolakan antara dosen dan mahasiswa tidak bisa di elakkan.
            Pendidikan sangatlah penting bagi manusia, karena tanpa pendidikan manusia akan sulit untuk berkembang, tapi lantas siapa yang akan mendidik manusia khususnya di kalangan perguruan tinggi jikalau moral dosen yang di mata kita yang semsetinya mejadi panutan atau suri tauladan dalam segala hal berbuat sesuatu hal yang sangat tak pantas di lakukan, apalagi ha itu di akukan kepada mahasiswinya sendiri? Jika kita di hujam oleh pertanyaan mengapa Indonesia tidak maju-maju? Apa masih kita menjawab karena anak bangsa yang candu terhadap duniawi dan kesenangan semata? Bukankah jawaban karena kosongnya moral pengajar (dosen) di perguruan tinggi adalah jawaban yang tepat? Mari kita saling  berintropeksi diri kita masing-masing, berdialektika dalam segala hal kebajikan, bukan malah bersifat ekslusif tak mau mendengarkan keluhan dan teriakan  mahasiswa.
            Jikalau sudah seperti ini bukankah selayaknya mahasiswa turun di jalan-jalan untuk meneriakkan keadilan dan hak mereka yang di rebut dan dinodai oleh dosen, dari segi pendidikan, moral, dan lain sebagainya? Ada pepatah kuno mengatakan “tidak akan ada asap kalau tidak ada api” kita tidak akan berteriak di jalan-jalan jika hak kami di penuhi, sunggh miris pmbelajaran perguruan tinggi kai ini, yang di gadang-gadang sebagai sekolah yang memeberi jaminan dalam segaa hal, tapi para pengajar atau dosen melalaikan dengan kewajibannya.
            Mahasiswa merupakan kaum intelektual, pergerakan, dan perubahan, jika tidak ada kaum mahasiswa bisa di katakan kita masih terjajah dan tertindas oleh para kaum birokrasi negara. Tapi nyatanya kaum mahasiswa menjadi candu hari ini dengan peraturan-peraturan yang membuat pergeraka, intelektual dan perubahan mereka macet. bukan tanpa sebab semua itu terjadi. banyak sekali sebab yang terjadi di antaranya semisal yang di gadang-gadang oleh banyak orang kehidupan glamor yang terjadi tapi nyatanya ha itu bukan sebab yang real, aka etapi peraturan dan otoritas sepihak yang di gagas oleh kaum birokrasi yang ada di kampus menjadi paku bumi yang cukup berat untuk di cabut
            Sebagai fitrah dari seorang pengajar (dosen) harus menjadi suri tauladan bagi seluruh mahasiswanya dari segi jasmani maupun rohani, agar semua muridnya menirukan segala hal yang baik oleh dosennya, saling berdialektika bersama mahasiswa bukan malah bersikap ekslusif dan tak mau tahu dengan keaadaan mahasiswanya, karena sejatinya dosen dan mahasiswa adalah satu kkesatuan yang tak bisa terpisahkan dan saling melengkapi satu sama lain.
            Konsep dalam suatu pendidikan ada dua unsur penting di dalamnya, yaitu guru dan murid (dosen dan mahasiswa) jika salah satu di antara keduanya tiada, maka pendidikan tersebut tidak akan bisa tercapai. Marilah dari kubu dosen dan mahasiswa saling berdamai, menciptakan dunia pendidikan yang bersih yang mengandung estetika di dalamnya, dengan cara bermusyawarah, berdialektika, demi menutupi kekurangan satu sama lain demi tercapainya salah satu visi dan misi Tri Dharma perguruan tinggi.
Daftar Pustaka

Karl Marx & Friedrich Engel. Manifesto Partai Komunis, Jogjakarta: Cangkrawangsa. 2014., hal. 35

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Jejak Perjalanan (1)"

Sudah sampai mana kita telah berjalan? Sudahkah kita beristirahat sejenak, meneguk air lalu menikmati alam semesta yang indah ini Nona? Perjalanan yang paling indah adalah perjalanan menuju sebuah hakikat, mengapa tidak jikalau hakikat adalah dzat yang selalu ada dalam kehidupan kita, sedangkan dirimu Nona selalu saja menghilang dalam kubungan sajak-sajak. Aku adalah pejalan waktu yang selalu lelah pada setiap perjalanan namun aku tak akan pernah berhenti untuk berjalan, karena tujuanku adalah diri-Nya yang tak berujung. Pada setiap pagi, selepas fajar merah dirimu selalu redup bersama mataku Nona, tapi mengapa setiap mataku terbangun dirimu selalu tersenyum dihadapanku Nona. Pada pemilik dzat yang maha agung aku titipkan segala takdirku, begitupun juga dirimu Nona. POM Bensin Suramadu, 15 Desember 2019
Perempuan yang bersamaku hari ini 1/ Lama sudah tak kusuai debur gugup hati ini Beberapa saat ku liat dari balik kaca senyum indah yang bersuai di belantara hutan kota Katakan bahwa ini adalah kelopak yang akan tumbuh setelah dirimu bangkit dari rapuh mu 2/ Tak akan ada satupun serangga yang akan menumbangkan dan mengisap madumu Tak akan ada satupun angin maupun bencana lain yang akan menguburkan mu, kecuali pupuk yang akan aku beri setiap pagi 3/ Bersemilah kembali di tanah ku ini, akan ku beri air dan pupuk setiap hari, kan ku tatap dirimu setiap saat, akan ku selimuti dirimu kala angin mulai melanda, ku harap tuhan tidak berkata lain pada ketentuan yang aku impikan 4/ Berjanjilah tuhan akan menciptakan nya 20 april 

"perjalanan kopi (6)"

Sunyi kembali bergelut bersama malam, menghadirkan irama sendu yang selalu aku rasakan ketika kepergianmu bersamaan dengan adzan subuh. Apa kau tahu betapa aku selalu rindu akan malam, kopi, dan buku yang menghadirkan mu dalam deretan bangku warung kopi. Akan aku tulis perihal senyum dan kecentilan jari telunjuk yang selalu kau perlihatkan, setidaknya kau selalu tersenyum pada kekonyolan yang aku sebabkan. Aku ingin mencintaimu dengan sebuah kopi, buku-buku dan perbincangan kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dalam sajak ketahuan ini aku menyatakan rasa cinta dan kasih yang amat mendalam terhadapmu, betapa indah senyum dan gelak tawa yang kau seduh bersama kopi yang aku miliki. Kunil, 2 Desember 2019